Kisah Perangko Imlek & Huruf Cina

Kisah Perangko Imlek & Huruf Cina

- detikNews
Kamis, 15 Feb 2007 16:41 WIB
Kisah Perangko Imlek & Huruf Cina
Bandung - Meski berkirim surat sudah tidak zamannya lagi, namun tidak ada salahnya Anda yang merayakan Imlek pada 18 Februari mendatang mengucapkan suka cita pada kerabat dan kawan melalui surat yang telah dibubuhi perangko 'chinese zodiac signs'. Bertepatan dengan perayaan Imlek, PT Pos Indonesia meluncurkan perangko yang bertema 'chinese zodiac signs'. Gambar berupa 12 macam shio tercetak dengan warna kuning dengan kertas yang berwarna merah. Kepala Divisi Filateli PT Pos Indonesia, Abdussyukur, yang ditemui di kantornya, Jalan Jakarta Bandung, Kamis (15/2/2007), mengatakan, pembuatan perangko ini merupakan kerjasama dengan The Chinese Indonesia Association. "Perangko bertema 'Chinese Zodiac Signs' ini sempat tujuh kali direvisi karena berbagai masukan. Kalangan warga Tionghoa memprotes pemuatan icon utama babi hutan dalam desain pertama, karena dianggap terlalu garang dan nggak sopan," katanya. Atas masukan ini, lanjut Abdussyukur, semua gambar shio dibuat lebih lucu dan menarik sehingga bisa diterima banyak kalangan. Menurutnya, PT Posindo memproduksi 400.000 set 'chinese zodiac signs' yang diproduksi dalam perangko biasa seharga Rp 1.500/ lembar, minisheet, souvenir sheet segi delapan, first day cover, hingga buku presentation pack seharga Rp 100 ribu per buah. Penerbitan perangko tema shio Cina ini dimaksudkan untuk mengakui eksistensi keberadaan etnis thionghoa serta menunjukkan eksistensi filateli di Indonesia. "Kami bersukur tidak mendapat halangan yang berarti saat berencana memproduksi perangko ini, tidak seperti tahun-tahun lalu saat beberapa kali PT Posindo membubuhkan huruf China di perangko," tuturnya. Menurutnya pada era Soeharto, jika akan membubuhkan huruf Cina di perangko maka harus mendapat persetujuan tertulis dari Kejaksaan Agung. Sebab, presiden saat itu menerbitkan Inpres No 14 Tahun 1967 yang melarang penerbitan berbau Cina, penggunaan bahasa bahkan pertunjukan keseniannya. "Pada tahun 1996 saat menerbitkan joint stamps issue dengan Pos Australia bergambar Kuskus Totol Australia dan Kuskus Beruang Indonesia, kami harus ijin ke Kejakgung karena ada kalimat berhuruf Cina," ujarnya. Padahal kalimat berhuruf China yang dimuat hanyalah 9th Asian International Philately Exhibition yang berlangsung di Beijing. Namun pada era kepemimpinan Abdurrahman Wahid, pada tahun 2000 Inpres itu dicabut. "Selang lima tahun dari itu yaitu pada 2005, barulah kami merancang perangko tema shio Cina ini," tuturnya. (ern/nrl)



Berita Terkait