Ribuan Orang di NTT Terancam Kelaparan Akibat Kekeringan

Ribuan Orang di NTT Terancam Kelaparan Akibat Kekeringan

- detikNews
Kamis, 15 Feb 2007 15:25 WIB
Kupang - Sebanyak 10 kabupaten di Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami gagal tanam akibat kekeringan. Akibatnya, ribuan orang terancam kelaparan.Kekeringan yang cukup serius ini menyusul rendahnya curah hujan dalam dua bulan terakhir. Sekitar lebih dari 20 ribu hektar padi dan jagung gagal tanam. Selain itu 9 ribu hektar tanaman padi, jagung, kacang tanah, kacang hijau dan ubi-ubian yang diserang organisme pengganggu tanaman dalam kondisi kritis dan berpeluang gagal panen.Kerugian diperkirakan mencapai lebih dari Rp50 miliar dengan total penduduk yang mengalami ancaman krisis pangan sebanyak hampir 3.000 jiwa lebih. Sepuluh Kabupaten yang mengalami kekeringan yakni Sikka, Flores Timur, Timor Tengah Utara, Ngada, Sumba Timur, Belu, Manggarai, Kupang, Rote Ndao dan Kota Kupang. Dari 10 kabupaten tersebut, baru 7 bupati yang melaporkan kondisi kekeringan kepada gubernur sementara 3 kabupaten lainnya masih melakukan pendataan total kerugian.Sekertaris Satuan Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi NTT, Sentianus Medi, di Kupang, Kamis (15/2) menegaskan, pemerintah akan segera melakukan langkah darurat untuk mengantisipasi kemungkinan adanya dampak krisis kemanusiaan, seperti kelaparan dan bencana lainnya dengan cara mengoptimalkan instansi tekhnis yang berhubungan dengan ketahanan pangan. "Saya sudah sampaikan kondisi ini kepada gubernur untuk secepatnya menggelar rapat koordinasi guna mengambil tindakan seperlunya," kata Sentianus Medi. Pemerintah pusat akan segera melakukan intervensi pangan dengan mengirimkan sedikitnya 12.000 ton beras impor untuk membantu masyarakat pada akhir Maret nanti. "Beras tersebut diharapkan dapat membantu mereka yang benar-benar mengalami kesulitan," ujar Sentianus. Kekeringan ini juga dikuatirkan akan berdampak pada terjadinya krisis air bersih. Sebab hingga pekan kedua Februari ini, intensitas hujan masih sangat rendah, sementara debit air khususnya sumber-sumber air yang dikelola PDAM dan sumur-sumur warga masih di bawah ambang normal. "Baru terjadi hujan beberapa kali sepanjang musim hujan tahun ini. Air pada sumur kami baru mengalami kenaikan kurang lebih satu meter dan hanya akan bertahan sampai dua bulan ke depan. Apabila hujan benar-benar berhenti maka masyarakat akan kesulitan air selain krisis pangan," kata Apris Adoe, warga Oebobo, Kota Kupang.Kepala BMG Stasiun El Tari Kupang, Albert Kusbagio, yang dihubungi terpisah mengatakan, kekeringan ini terjadi karena adanya penyimpangan suhu permukaan laut sehingga berpengaruh pada pembentukan awan. "Suhu air laut saat ini -1 derajat atau lebih dingin dari kondisi normal. Sedangkan Indeks Osilasi Selatan berada pada posisi -10. Kondisi ini mengakibatkan terjadinya penyimpangan iklim sehingga munculnya kekeringan. Padahal, bulan Februari merupakan puncak musim hujan di NTT," katanya. Sementara Humas Depot Logistik NTT, Bambang Utoyo, dalam keterangan terpisah mengatakan, stok beras di gudang Dolok NTT masih mencukupi sampai dengan Maret mendatang. "Stok yang ada sekarang mencapai 30.630 ton dan masih mencukupi sampai dengan Maret mendatang," ujar Bambang. (djo/djo)


Berita Terkait