ABG Jual Diri Lewat Friendster (2)
Siswi SMU pun Tak Ketinggalan
Kamis, 15 Feb 2007 12:39 WIB
Jakarta - Kafe di bilangan Kemang ini begitu cozy. Musik bergenre soft trance mengalun lirih. Riko, sebut saja demikian namanya, di senja yang beranjak malam sedang menanti Dinar di tempat kongkow itu. Dinar adalah pelajar sebuah SMU swasta di Jakarta Selatan yang juga menjajakan dirinya melalui friendster. Jam menunjukan pukul 19.00 WIB, Riko mulai resah karena sudah lewat satu jam Dinar belum muncul juga. Riko pun kembali memesan gin tonic yang sudah tiris. Tak lama berselang, seorang waitress muncul dan kembali mencatat pesanan. Duh, jadi nggak sih nih, pikir Riko. Soalnya HP Dinar berkali-kali ditelepon namun tak aktif juga.SMS lagi pun meluncur ke nomor Dinar, tetap saja statusnya masih pending. Nyaris putus asa, namun dari kejauhan tampak seorang gadis belia memakai cardigan pink memasuki kafe. Dia terlihat celingak-celinguk dan tengah berusaha mengaktifkan handphonenya. Raut mukanya tampak kesal saat matanya tertuju pada handphone Nokia keluaran anyar itu."Dinar, ya?" tanya Riko, sambil memberanikan diri mendekati gadis manis ini. "Kamu Riko ya?" balas Dinar. Keduanya pun pun terlihat mulai akrab dan mengambil tempat duduk yang sudah disiapkan sebelumnya."Sorry ya, tadi ada temen nelepon lama banget, sampe HP gue lowbat," kata Dinar membuka pembicaraan. Pembicaraan pun terus berlanjut. Tawa lepas dan senyum manisnya kerap menghias pembicaraan santai mereka berdua.Dinar yang kini beranjak 17 tahun, belakangan ini mesti kalang kabut. Tinggal beberapa bulan lagi dia harus mengikuti ujian kelulusan. "Gue mau masuk Komunikasi nanti," angan Dinar setelah lulus SMU nanti. Setelah berhaha hihi, akhirnya Dinar bercerita soal friendster. Dinar kenal situs pertemanan ini sejak 2 tahun lalu. Tadinya dia malas untuk membuka situs-situs internet, namun setelah diajak seorang teman Dinar pun tertarik. Dari sinilah dia mulai suka surfing dan chating. Ketertarikannya pada friendster pun didapat dari teman sesama chating.Lalu bagaimana Dinar bisa terjun ke dunia hitam ini? Dinar memang sudah lama iseng-iseng nyambi sebagai pecun. Pecun adalah bahasa gaul penjaja seks komersil. "Lama-lama cari duit begini gampang banget. Ya jadi nyandu deh, lagian juga kebutuhan gue banyak banget seh," kata Dinar. Lantaran mulai suka surfing dan chating, Dinar pun sekalian menjajakan kehangatan tubuhnya lewat friendster. Caranya pun nyaris sama, dia mencoba mendekati calon pelanggannya lewat chating di MIRC. Dari sini juga biasa Dinar memperkenalkan teman-temannya sesama pecun kepada pelanggannya. Dia pun biasa membuat "acara" dengan layaknya seorang GM atau bahasa lazimnya disebut germo. Tapi jangan harap juga calon pelanggan Dinar akan menemukan nomor teleponnya di friendster. Dinar sama seperti ABG lainnya, yang menampilkan secara wajar profil dan fotonya. Tapi ada satu foto Dinar yang lumayan menantang. Degup pria yang melihatnya akan berdetak keras."Itu foto gue yang paling seksi," puji Dinar. Dinar pun mempertunjukkan sebagian foto-foto bugil dirinya dari kamera HP. Foto bugilnya tentu dijepretnya sendiri. Tadinya dia ingin menampilkan foto bugilnya di friendster tapi akhirnya urung dia lakukan. Alasannya, malu! Ternyata masih punya malu juga.Bicara soal harga sekali kencan, Dinar merasa perlu meninggikan harga. Selain modal wajahnya yang cantik, Dinar pun terhitung masih belia. Sekali kencan, Dinar mematok Rp 1 juta. Tidak ada tawar menawar. Dia juga tak pernah memilih-milih pasangan mainnya, apakah tua, muda, jelek ataupun ganteng. Tapi soal tempat kencan intim Dinar akan lebih selektif. "Paling nggak hotel bintang dualah," itulah kata yang keluar dari bibir kenesnya.Cerita Dinar soal pelanggannya pun beragam. Pernah pada suatu kesempatan saat dia bercinta atau istilah kerennya ML, tiba-tiba saja istri teman kencannya itu menelepon. Dengan nafas tidak teratur, lawan mainnya Dinar berbicara kepada istrinya. Namun istrinya itu heran kenapa suaminya saat bicara begitu terengah-engah. "Iya mah, lift di kantor mati. Jadi aku mesti naik lewat tangga, jadi ngos-ngosan begini deh," pria itu mencoba ngeles.Kasihan sekali perempuan ini, kerap ditipu oleh suaminya. Karena pria hidung belang ini sering sekali check in dengan Dinar, terutama pada saat jam kerja. Ketika itu juga Dinar sudah pulang sekolah.Riko pun tertawa terbahak mendengar cerita itu. Waktu pun tak terasa sudah beranjak malam. Mereka lalu berpisah di pintu gerbang kafe itu. Tapi sebelumnya, Dinar meminjam HP Riko dan menelepon seseorang. Tak berapa lama sebuah sedan BMW hitam berhenti di depannya. "Udah dulu ya, gue mau "kerja" dulu. Udah dijemput nih, kapan-kapan kita dugem bareng yuk," Dinar pun masuk ke kabin belakang mobil mewah milik teman kencannya itu dan hilang di temaram malamnya kawasan Kemang.
(mar/nrl)











































