Laporan dari Den Haag

Mengenang Ben Bot, si Belande Anak Betawi

- detikNews
Kamis, 15 Feb 2007 12:04 WIB
Den Haag - Selama menjadi Menlu, Bot menonjol dengan kebijakannya yang mendekat ke Indonesia dengan aksen lebih hangat dibandingkan dengan para pendahulunya.Bernard Rudolf Bot, populer dan enak disapa dengan Ben Bot, antara lain berani mendobrak tabu dan kebekuan politik menyangkut isu hari kemerdekaan Indonesia. Di hadapan parlemen (15/8/2005), Menlu kelahiran Batavia (Jakarta), 21/11/1937, itu memaparkan visinya mengenai pentingnya Belanda menerima hari kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17/8/1945. Hal ini diulanginya lagi pada peringatan kapitulasi Jepang di Monumen Indie, Den Haag.Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal itu, namun pengakuan dan penyerahan kedaulatan baru dilakukan Belanda pada 27/12/1949, setelah terjadi dua kali kekerasan militer yakni Agresi Militer I (21/7/1947 hingga 5/8/1947) dan Agresi Militer II (19/12/1948). Belanda (bahkan hingga kini) menyebut aksi itu sebagai Aksi Polisional memberantas teroris dan ekstrimis, untuk memulihkan ketertiban dan keamanan."Penerimaan secara moral berarti juga bahwa saya sejalan dengan ungkapan-ungkapan penyesalan sebelumnya, mengenai perpisahan jalan yang menyakitkan dan penuh kekerasan antara Indonesia dan Belanda," demikian Bot.Bot menilai bahwa HUT Kemerdekaan RI ke-60 saat itu merupakan momentum yang tepat untuk membuka lembaran baru hubungan bilateral kedua pihak.Menurut Bot, hanya dengan pengakuan terbuka, hubungan persahabatan kedua negara ke depan akan bisa lebih mulus, terbebas dari kerikil emosional yang mengganjal kedua pihak. Dijelaskan pula bahwa fakta hari kemerdekaan Indonesia itu tidak bisa terus-menerus diingkari, sebab Indonesia sudah memperingatinya setiap tahun tidak pernah terputus sejak 17/8/1945.Saya terkesan, diplomat bermata elang ini sangat teliti dan piawai memilih kata. Ia sengaja menggunakan kata menerima, sebab menurut hemat dia, soal pengakuan itu sudah terjadi pada 27/12/1949. "Pengakuan kedaulatan sudah dilakukan Belanda pada 1949 dan itu tidak bisa dilakukan dua kali," jelas Bot saat itu. Langkah terobosannya juga terhitung brilian dan sangat berani, mengingat isu itu sangat sensitif, terutama di kalangan veteran yang saat ini masih banyak yang hidup. Namun di luar dugaan, parlemen secara aklamasi mendukung langkahnya, bahkan dari organisasi-organisasi veteran dan sejarawan Belanda. Pidato politik di depan parlemen itu lalu disusul Bot dengan langkah nyata menghadiri upacara kenegaraan HUT Kemerdekaan RI ke-60 di Jakarta. Tabu besar dan hantu menakutkan yang selama ini membayangi hubungan kedua negara berhasil ia sibak dengan caranya yang mencengangkan berbagai pihak. Kehadirannya secara fisik itu, selaku anggota kabinet sebuah negara, menjadi penjelasan yang melebihi ribuan silang-sengketa interpretasi kata-kata.Setelah terobosan Bot itu, kunjungan kerja antarpejabat level tinggi kabinet Belanda-Indonesia dan pembuatan kerjasama saling menguntungkan meningkat tajam. Tercatat PM Balkenende mengunjungi presiden SBY di Jakarta. Bot sendiri bolak-balik bertemu Wirajuda. Lalu disusul antara lain Menteri Ekonomi Brinkhorst, Menteri Kerjasama Pembangunan Van Ardenne, dan Menteri Pendidikan Maria Van der Hoeven. Belum pernah sepanjang sejarah hubungan diplomatik kedua negara mengalami kemesraan seperti pasca terobosan Menlu Ben Bot. Menlu Hassan Wirajuda ketika saya tanya di Den Haag mengatakan, bahwa sejak langkah Bot itu pembicaraan-pembicaraan kedua pihak menjadi plong, tanpa beban."Kita menjadi lebih bebas berdiskusi dan saling mengkritik. Kalau dulu hal itu tidak mungkin, terlalu peka dan sering berbuntut masalah. Ganjalan itu membuat kita saling sangat hati-hati dan kaku. Sekarang betul- betul lepas. Kerikil dalam sepatu itu sudah dikeluarkan," demikian Wirajuda, musim panas 2006 lalu.Sayangnya, si Belande Anak Betawi itu terlalu singkat memegang kemudi Deplu, hanya 3,5 tahun. Situasi politik di Belanda yang gonjang-ganjing dan akhirnya membuat kabinet jatuh, ternyata memberi skenario lain: Bot tidak kembali ke kabinet.Bot adalah sosok unik dalam hubungan diplomatik Belanda-Indonesia. Ia mungkin merupakan menteri Belanda terakhir dari generasi 'bertanah tumpah darah Indonesia, tapi bernegara Belanda' yang memiliki ikatan emosional kuat dengan tanah kelahirannya dan menjadi jembatan segala cuaca yang menghubungkan kedua pihak.Bot kini tersingkir, digantikan oleh angkatan muda. Bagaimana sesudahnya? Jawabnya ada di tangan yang muda-muda. Merela ini berpikir, bersikap dan bertindak tanpa dipengaruhi oleh romantika masa lalu. Di Belanda kini telah muncul sosok seperti Geert Wilders, ekstrimis kanan tapi diterima secara politik. Indonesia juga terus berkembang menapaki usia pertumbuhannya. Anda catat, suatu saat kedua pihak pasti akan merindukan peran orang seperti Bot.

(es/es)