Saatnya Paradigma KB Berubah
Kamis, 15 Feb 2007 11:35 WIB
Denpasar - Kuantitas tak lagi jadi fokus utama program keluarga berencana (KB). Paradigma KB berubah, dengan lebih menitikberatkan pada kualitas hidup."Kualitas yang akan lebih diperhatikan. Untuk itu BKKBN sangat mendukung wajib belajar 9 tahun, dan akan membantu mengembangkan skill masyarakat," ujar Kepala BKKBN Sugiri Syarief.Hal itu disampaikan dia di sela-sela konferensi internasional pemimpin muslim untuk mendukung program kependudukan dan pembangunan di Inna Grand Bali Beach Hotel, Denpasar, Bali, Kamis (15/2/2007).Untuk kembali menggalakkan program KB, BKKBN akan menggandeng tempat-tempat ibadah, tokoh agama, dan ormas.Untuk anggaran, pada 2007 ini BKKBN mendapat kucuran dana dari APBN Rp 1,04 triliun. Angka ini meningkat dari tahun sebelumnya yang berjumlah Rp 800 miliar.Alat kontrasepsi yang diberikan gratis kepada masyarakat adalah sebanyak 9,3 juta, atau 30 persen dari kontraseptor. Sedangkan 70 persen alat KB gratis diupayakan oleh pemerintah daerah.Kini jumlah penduduk Indonesia tercatat 220 juta, dengan laju pertumbuhan penduduk 1,35 persen. Dengan KB, Indonesia berhasil "menghemat" 80 juta penduduk. 20 Tahun mendatang, diperkirakan jumlah penduduk Indonesia mencapai 370 juta.Mengapa jumlah penduduk Indonesia cenderung meningkat?"Ada teori nilai anak yang saya rasa berlaku di Indonesia. Jadi orang miskin menganggap anak sebagai investasi untuk mencari uang. Sedangkan orang kaya cenderung menganggap anak sebagai investasi masa depan sehingga disiapkan sebaik-baiknya," jela pria yang akrab disapa Giri ini.Menurut mantan Sekjen Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini, masalah kependudukan bukan hanya KB semata. Namun masih ada masalah migrasi, distribusi penduduk, dan kualitas penduduk."Sekarang ini masalah kependudukan tidak ada yang menangani karena menteri kependudukan sudah tidak ada lagi," bebernya.
(nvt/nrl)











































