Perawat RS Koja Hanya 'Tidur Ayam' Hadapi Seribuan Pasien Diare
Rabu, 14 Feb 2007 14:25 WIB
Jakarta - Korban banjir yang terkena diare dan demam berdarah di Jakarta Utara terus bertambah. Tenaga medis kewalahan menghadapinya. Perawat pun hanya bisa 'tidur-tidur ayam'.Ratusan penderita diare dan DBD di RSUD Koja, Jakarta Utara, seperti air bah. Tak lagi bisa tertampung. Ruang rawat inap, lorong rumah sakit, aula dan tiga tenda tentara sudah penuh.Pasien yang kebanyakan balita menangis karena kepanasan. Orang tua pasien menjaga dan mengipas-ngipasi anaknya dengan koran dan alat seadanya. Sementara perawat lalu-lalang mengecek setiap pasien yang perlu penanganan. Berdasarkan catatan RSUD Koja Rabu (14/2/2007) siang, penderita diare yang dirawat inap sudah menginjak angka 293 pasien. 255 Di antaranya adalah anak-anak. Sementara penderita demam berdarah ada 40 pasien, rinciannya 20 anak-anak dan 20 orang dewasa. Jika digabung dengan pasien rawat jalan, tenaga medis di rumah sakit ini harus melayani total 1.060 pasien.Jumlah sebanyak ini tidak sebanding dengan tenaga medis yang tersedia. Untuk melayani ribuan pasien, RSUD Koja hanya menyediakan 5 dokter, 7 ahli gizi dan 65 orang perawat. Bisa dibayangkan betapa kelimpungannya para tenaga medis tersebut.Seperti yang dialami Dian. Perawat berusia 26 tahun tersebut cukup kewalahan melayani pasien yang setiap menitnya datang ke ruang UGD. Meski jam kerjanya sudah lewat, dia tetap tidak bisa pulang ke rumah saking banyaknya pasien yang harus dilayani."Hampir tidak bisa tidur. Kalau tidur juga cuma tidur-tidur ayam karena harus jaga UGD yang setiap menitnya ada saja pasien masuk," kata Dian yang terlihat lelah saat berbincang dengan detikcom di ruang UGD RSUD Koja, Jakarta Utara. Sudah tiga hari dia mengaku tidak pulang ke rumah.Hal serupa juga terjadi di RSPI Sulianti Saroso, Jakarta Utara. Rumah sakit yang biasa menampung penderita flu burung tersebut juga kebanjiran pasien diare korban banjir.Sebanyak l80 pasien anak-anak dan 18 orang dewasa sudah memamdati rumah sakit rujukan korban diare ini. Mereka ditampung di lorong-lorong. Bahkan ruangan yang biasa untuk merawat pasien flu burung sudah penuh menampung pasien diare.Wakil Direktur Umum dan Keuangan RSPI dr Sardikin mengaku kewalahan. "Persediaan infus kami sudah mulai menipis tinggal 3 ribu botol. Ini hanya bertahan beberapa hari. Selain itu kami masih membutuhkan tempat tidur lipat karena setiap hari masih ada saja pasien yang datang," ujar Sardikin.
(ana/nrl)











































