KB Indonesia di Mata Iran
Selasa, 13 Feb 2007 16:27 WIB
Denpasar - Ledakan jumlah penduduk, mau tak mau membuat sejumlah negara menerapkan keluarga berencana (KB), tak terkecuali Indonesia. Meski sempat belajar KB ke Indonesia, namun KB di Indonesia mendapat kritik dari Iran."Indonesia masih fokus pada kuantitas. Kalau lebih pada kualitas, maka hasilnya mungkin jauh lebih mengena hati masyarakat," kritik Deputi Penelitian Riset dan Teknologi Kementerian Kesehatan dan Pendidikan Medis Iran Hossein Malek Afzali.Hal itu disampaikan Malek kepada detikcom dan Koran Tempo di sela-sela konferensi internasional pemimpin muslim untuk mendukung program kependudukan dan pembangunan di Inna Grand Bali Beach Hotel, Denpasar, Bali, Selasa (13/2/2007).Apakah KB di Indonesia telah gagal? "Tidak, saya tidak bilang begitu. Berhasil, buktinya angka pertumbuhan penduduk Indonesia 1,35 persen. Kami dalam waktu 20 tahun, angka pertumbuhan penduduknya 1,2 persen," jelasnya.Dituturkannya, KB di Iran memfokuskan pada kualitas hidup masyarakat. Hal ini telah diterapkan sejak 1988, saat Imam Khomaini masih berkuasa. Pendekatan kesehatan akan membuat perencanaan keluarga lebih berkelanjutan.Iran tidak menghalangi pertambahan penduduk. Namun dengan perhatian serius pada masalah kesehatan, dengan sendirinya angka kelahiran juga menurun."Di Iran, perempuan yang hamil lebih dianjurkan pada usia 18-35 tahun. Ini lebih pada pertimbangan kesehatan," imbuh pria yang menggondol gelar profesor dari Universitas Teheran ini.Kini, sekitar 10 juta orang Iran telah ber-KB. "Kalau tidak ada perencanaan keluarga, mungkin jumlah penduduk kita mencapai 90 juta," tambah Malek.Menurutnya, program KB berbasis kesehatan berhasil dijalankan di Iran karena dipengaruhi beberapa faktor antara lain kuatnya komitmen pemerintah, peran pemuka agama, dan meningkatnya melek huruf perempuan Iran.
(nvt/nrl)











































