Pembayaran Tol di KL Lebih Maju

Laporan dari Malaysia

Pembayaran Tol di KL Lebih Maju

- detikNews
Senin, 12 Feb 2007 07:14 WIB
Pembayaran Tol di KL Lebih Maju
Kuala Lumpur - Jalan-jalan tol di Indonesia terus dibangun. Namun, sistem pembayaran jalan bebas hambatan di Indonesia masih jauh lebih tradisional dibanding di Kuala Lumpur (KL), Malaysia. Di Kuala Lumpur, pembayaran tol sudah lama menggunakan sistem elektrik. Bukan Jakarta, tidak pula kota-kota lain di Indonesia. Sistem pembayaran tol di semua kota masih sama: bayar cash! Faktor pembayaran cash inilah sebagai salah satu penyebab kemacetan di pintu-pintu tol. Di Indonesia, pembayaran hanya dibedakan dengan langganan, bayar dengan uang pas, dan bayar tanpa uang pas. Opsi 'langganan' tidak begitu menarik bagi pengguna kendaraan. Selama ini pembayaran tanpa uang pas yang sangat sering terjadi. Pengembalian uang dari petugas pintu tol kepada pengguna jalan inilah yang membuat jeda waktu beberapa puluh detik, sehingga saat-saat ramai, kendaraan menumpuk di pintu tol dan lalu lintas menjadi macet. Tengok saja di Pintu Tol Pondok Gede Timur dari arah Cikampek. Setiap hari di pagi hari, terutama hari Senin, kemacetan luar biasa selalu terjadi. Begitu pula dengan Tol TMII dari arah Jagorawi.Entah mengapa PT Jasa Marga sebagai pengelola jalan tol di Indonesia tidak menerapkan sistem pembayaran yang lebih canggih, sehingga antrean kendaraan-kendaraan di pintu tol bisa dikurangi. Jasa Marga barangkali perlu belajar dari pengelolaan tol di Malaysia. Di Kuala Lumpur, ada tiga sistem pembayaran yang bisa dipilih oleh pengguna tol. Pertama, pembayaran sistem elektrik prepaid bersensor. Sistem ini seperti pengguna telepon seluler prabayar. Jadi, pengguna tol harus membeli kartu tol terlebih dahulu dengan nilai nominal tertentu. Kartu ini dipasang dalam suatu alat khusus yang dilengkapi sensor. Alat ini selalu dipasang di dalam mobil. Saat mobil mendekati pintu tol, alat sensor ini dipasang di dekat kaca mobil dan langsung terbaca oleh peralatan di pintu tol. Kartu tol itu akan berkurang secara otomatis sesuai tarif tol. Dengan sistem ini, mobil tidak perlu berhenti di pintu tol. Kedua, pembayaran sistem 'touch and go.' Sistem ini juga menggunakan kartu prepaid dalam nominal tertentu. Namun, bedanya, pengendara harus menempelkan kartunya di tempat khusus di pintu tol. Begitu kartu itu disentuhkan ke alat itu, palang pintu tol langsung membuka sendiri. Dengan cara ini, mobil hanya perlu waktu beberapa detik saja untuk berhenti di pintu tol. Ketiga, pembayaran sistem cash. "Tapi, cara terakhir ini tidak diimbau digunakan di Kuala Lumpur, karena akan bisa membuat kemacetan panjang," kata Ruslin, warga Kuala Lumpur yang sehari-hari bekerja di Centre for International Dialogue Institute of Strategic and International Studies Malaysia, saat berbincang-bincang dengan detikcom, Senin (12/2/2007) di Hotel Nikko, Jl. Ampang, Kuala Lumpur. Dengan sistem pembayaran elektrik ini saja, kemacetan lalu lintas di tol Kuala Lumpur masih sering terjadi. Kemacetan biasanya terjadi pada pagi hari saat warga Kuala Lumpur berangkat kerja dan saat pulang kerja pada sore hari. Dalam penelusuran detikcom, Indonesia sebenarnya lebih dulu membangun jalan tol dibanding Malaysia. Indonesia membangun tol Jakarta-Bogor (lebih dikenal Jagorawi) pada tahun 1975 dan baru dioperasikan pada tahun 1978. Dan saat ini, jalan tol di Indonesia semakin panjang saja. Sementara Malaysia baru membangun jalan tol pada tahun 1996. Di Malaysia, perusahaan yang mengelola jalan tol dipercayakan kepada United Engineers Malaysia (UEM). Saat ini, panjang tol di Malaysia sudah mencapai ribuan kilometer. (asy/asy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads