Siswa SMKN Bandung Temukan Alat Pendeteksi Banjir
Kamis, 08 Feb 2007 13:52 WIB
Bandung -
Banjir tidak hanya menimbulkan bencana. Bagi mereka yang kreatif, banjir juga bisa mendatangkan ide cemerlang. Seperti yang dilakukan 5 siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) I Katapang, Bandung. Mereka menemukan alat pendeteksi banjir.Ide itu muncul karena sekolah mereka setiap tahun selalu kebanjiran. Kelima siswa tersebut, Januar Adriadi, Nandar Turnawan, Jajang, Gun Gun dan Shiddik, kemudian membuat proposal pengajuan penelitian alat pendeteksi banjir kepada sekolah. Januar cs akhirnya melakukan penelitian dalam dua tahap. Tahap pertama bulan Juni hingga Agustus 2006. Tahap kedua, antara September hingga Desember 2006." Biaya untuk modal alatnya hanya sebesar Rp 300 ribu. Sementara untuk penelitiannya dalam dua tahap itu menghabiskan dana Rp 1 juta," kata Januar kepada detikcom di sekolahnya, Jalan Ceuri, Bandung, Jawa Barat, Kamis (8/2/2007).Siswa kelas III jurusan elektronika industri ini menambahkan, alat pendeteksi banjir ini memanfaatkan teknologi AT89C51 dan DTMF melalui sinyal frekuensi FM. "Pada tahap pertama, kita tidak menggunakan program DTMF yang merupakan digital. Kita pakai yang manual. Namun seringkali terjadi error karena salah baca kode. Makanya kami sempurnakan dengan memakai DTMF," tutur Januar. Untuk simulasi alat, Januar menggunakan sebuah ember yang telah diberi tanda batas level air, yaitu waspada, siaga, dan kondisi awas. Ember itu dipasangi pipa palaron dan sensor elektroda serta kabel sesuai dengan levelnya yang langsung dihubungkan dengan lampu warna dan sirine. Jika ember ini diisi air dengan batas level tertentu, maka kabel di dalam pipa palaron yang telah disambungkan dengan alat kontrol melalui gelombang FM, akan memberikan informasi kondisi status tersebut melalui lampu warna dan sirine. Untuk status waspada, lampu hijau akan menyala. Jika siaga, maka lampu kuning yang menyala. Dan apabila siaga, maka lampu merah menyala dan diiringi dengan suara sirine. "Saat ini kami sedang mengembangkan bagaimana indikator yang diterima penerima itu bukan hanya bisa berupa lampu atau sirine tetapi seperti suara manusia yang ngomong," katanya. Lebih lanjut dia mengatakan dengan memasang alat pemancar FM di sungai, maka setiap radio masyarakat yang berada di sekitarnya dalam radius tertentu akan menerima sinyal peringatan itu. "Kami memakai frekuensi FM di bawah 87, karena kalau di atas itu takut bentrok dengan sinyal radio FM komersil," ungkap Januar. Meski terlihat sudah sempurna dan bisa dipraktekkan, Januar mengaku penelitiannya ada titik kelemahan. Sebenarnya, kata dia, DTMF bisa membaca kode hingga 16 level. Namun, hingga kini dirinya baru bisa memasukkan tiga level. "Saya cuma bisa tiga level, yaitu waspada, siaga, awas. Padahal kalau bisa hingga 16 level, maka setiap level akan ada level lagi. Dan itu akan membuat sinyal peringatan lebih akurat," katanya.
(ern/djo)










































