Angka Kematian Bayi Akibat Asfiksia Masih Tinggi
Rabu, 07 Feb 2007 19:07 WIB
Jakarta -
Angka kematian bayi neonatal (usia 0-28 hari) akibat asfiksia (tidak menangis dan tidak bernafas pada waktu lahir), di Indonesia masih tinggi. Padahal hal ini bisa dikurangi dengan memberikan pelatihan resusitasi kepada para bidan.Hal tersebut terungkap dalam disertasi Dr. drg. Ella Nurlaela Hadi M.Kes di hadapan sidang promosi doktor Universitas Indonesia (UI) yang dipimpin Dekan FKM UI Prof dr Hasbullah Thabrani MPH, Dr.PH dengan promotor Prof. dr. Hadi Pratomo, MPH, Dr. PH di Kampus UI, Depok, Rabu (7/2/2007). "Cara ini terbukti berhasil mengurangi angka kematian bayi neonatal di Kabupaten Cirebon , Jawa Barat," kata Ella.Peraih doktor cumlaude dengan IPK 3,94 ini menjelaskan, penelitian yang dilakukannnya di Cirebon pada 2004 -2005 membuktikan, pelatihan manajemen asfiksia bayi baru lahir kepada bidan, mampu menurunkan angka kematian dari 5 per 1000 kelahiran hidup menjadi 2,7 per 1000 kelahiran hidup. "Artinya, mengurangi kematian sampai 46 persen. Saat ini di Cirebon, dari 44.000 kelahiran setiap tahun, 900 bayi di antaranya mengalami kematian neonatal, 250 karena asfiksia," ungkap Ella.Menurut Ella, pilihan pelatihan resusitasi terhadap para bidan ini berdasarkan berbebagai hal. Selain persalinan oleh bidan masih tinggi, juga karena biayanya relatif murah. "Karena itu sistem pelatihan kepada bidan secara berkelanjutan perlu dilakukan di seluruh kabupaten di Indonesia agar angka kematian bayi akibat asfiksia dapat dicegah," ungkap Ella.
(djo/djo)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































