Antropolog: Banjir Surut, Gejolak Sosial Menghantui
Selasa, 06 Feb 2007 15:51 WIB
Jakarta -
Bencana banjir tak hanya membuat masalah saat ini saja. Persoalan baru pascabanjir akan menghantui wajah ibukota. Bayang-bayang gejolak sosial akan muncul setelah genangan air di Jakarta mulai surut.Pakar Antropologi Iwan Said memprediksikan bakal ada gejolak sosial yang cukup besar pascabanjir di Jakarta. "Di depan mata Indonesia akan berhadapan dengan kerusuhan sosial yang sangat besar akibat bencana ini. Pemerintah pun harus arif menghadapinya," kata Iwan yang juga guru besar di Tamashat University di Bangkok Thailand saat dihubungi detikcom di Jakarta, Selasa (6/2/2007).Lulusan master di Harvard University ini mengatakan, kerugian material yang diderita rakyat yang menjadi korban banjir akan berimplikasi kepada masalah sosial. Ditambah lagi makin sempitnya lapangan pekerjaan karena kemungkinan banyak industri-industri yang kolaps akibat banjir.Kearifan pemerintah menghadapi gejolak sosial ini dinilai penting, mengingat persoalan ini tidak bisa diselesaikan dengan tindakan tegas atau represif sekalipun. "Beda tipis antara tegas dan respresif. Apakah bisa bahasa represif diterapkan ketika orang tengah lapar," tutur Iwan.Iwan yang enggan memakai gelarnya ini meyakini pemerintah pun akan kesulitan menghadapi berbagai gejolak sosial yang timbul pascabanjir. Maka, harus ada langkah radikal yang harus ditempuh pemerintah untuk mengatasi persoalan ini. Pemerintah, kata Iwan, harus siap memotong belanja rutin pemerintahan dan biaya pembangunan sehingga bisa digunakan untuk pembiayaan sosial. "Memang agak radikal, tapi kita tidak akan bisa mencari jalan tengah dan salah satunya harus ada yang dikorbankan," ujar lulusan Cambrigde University ini.Dia menyarankan, agar pemerintah mulai membuat kebijakan pembenahan infrastruktur, ekonomi dan kemudahan dalam hal perpajakan. "Kebijakan pajak ini penting karena banyak perusahaan yang kolaps akibat banjir. Agar perekonomian bangkit kembali untuk mengatasi PHK," tuturnya.Master Antropologi lulusan Yerussalem University ini juga menilai, tidak perlu ada yang disalahkan atas musibah banjir ini. "Apa masyarakat peduli kalau Jakarta ini langganan banjir dan juga apakah pemerintah juga sudah siap menghadapi ini?" tanya Iwan.Ke depan, yang harus dilakukan adalah dengan mengingatkan kalau bencana banjir sudah harus menjadi sebuah pendidikan bagi rakyat sehingga mereka sudah harus siap ketika menghadapi bencana ini. "Apa pendidikan di republik ini mengajarkan kalau daerah ini langganan banjir," cetusnya.Begitu juga dengan pelaku ekonominya, harus diberi pemahaman juga akan kondisi ini. "Sudah tahu daerah ini banjir kenapa membangun infrastruktur ekonomi. Ini sudah menjadi risiko," papar Iwan.
(mar/asy)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































