Hati-hati! ISPA dan Flu Burung Menyerang Saat Banjir
Selasa, 06 Feb 2007 01:27 WIB
Jakarta - Meluasnya banjir di Jakarta dan sekitarnya tidak hanya menyebabkan korban menderita kerugian materil. Berbagai penyakit pun siap menyerang. Diantaranya, Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), Pneumonia hingga Flu Burung.Hal itu disampaikan Dr. Tjandra Yoga Aditama dalam e-mail yang diterima detikcom, Selasa (6/2/2007). Menurutnya, bencana banjir yang mengakibatkan warga mengalami penurunan daya tahan tubuh akibat kedinginan serta buruknya sanitasi di pos pengungsian, menyebabkan kuman masuk dengan mudah ke tubuh manusia.Bangkitnya koloni kuman itu berpotensi menyebabkan ISPA. Terdapat tiga unsur pada penyakit yang juga dikenal dengan Acute Respiratory Infections (ARI) ini. Yakni infeksi, saluran pernafasan, dan akut. Semuanya bermula dari masuknya kuman sehingga berakibat infeksi saluran pernapasan.Dalam kondisi banjir seperti sekarang ini, kondisi kedinginan yang dialami korban menjadi celah masuknya kuman. "Kedinginan bukan ISPA, tapi dengan kedinginan maka kuman dari luar bisa masuk dan koloni kuman di dalam tubuh dapat bangkit," ujar lelaki kelahiran Jakarta, 3 September 1955 ini.Ia pun menjelaskan adanya kemungkinan korban banjir yang meninggal akibat kedinginan adalah karena ISPA yang berujung pada Pneumonia, yang merupakan proses infeksi akut yang merusak jaringan paru-paru atau alveoli. Oleh karena itu ISPA harus ditangani dengan baik dan cepat. Disamping itu, daya tahan tubuh harus dijaga dengan suplai makanan yang cukup serta sanitasi yang optimal."ISPA pasti banyak diderita sekarang ini oleh korban banjir, selain gangguan saluran pencernaan dan gangguan kulit. ISPA akan jadi pneumonia kalau, tidak diobati dengan baik dan daya tahan tubuh pasien rendah," kata Yoga.Sementara itu, tingginya curah hujan yang menyebabkan rendahnya suhu udara juga 'memanjakan' virus flu burung yang juga meluas beberapa bulan terakhir. Sehingga virus ini mudah menular."Tentang flu burung, tentu saja dapat menular pada saat musim hujan lebat begini. Apalagi suhu udara turun, sehingga virus flu burung dapat tahan hidup lebih lama daripada musim kemarau," pungkasnya.
(aip/bal)











































