Terserang DBD, Banyak Warga Inhil Riau Berobat ke Dukun
Jumat, 02 Feb 2007 17:57 WIB
Jakarta - Rendahnya pendidikan kesehatan masyarakat menjadi kendala tersendiri dalam penanganan penyakit berbahaya seperti demam berdarah dengue (DBD). Masyarakat lebih senang berobat ke dukun dari pada ke dokter.Di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, misalnya. Di wilayah ini, dari 147 kasus DBD 3 orang di antaranya meninggal dunia. Salah satu penyebabnya karena korban terlambat dibawa ke rumah sakit. "Warga yang meninggal dunia ini, karena terlambat mendapat pertolongan medis. Mereka yang kini terserang DBD sebagian besar merupakan warga desa. Tiga orang yang meninggal dunia itu, karena menganggab sakit yang mereka alami dianggap demam biasa," kata Bupati Inhil, Indra Muchlis Adnan saat dihubungi detikcom, Jumat (2/02/2007). Indra menjelaskan, sebagian besar yang menderita penyakit DBD ini merupakan warga desa. Mereka masih banyak yang berpikiran tradisional dan menganggap DPB sebagai penyakit yang dikirim orang lewat dunai gaib. "Jadi ketika terserang demam, penderita bukannya dibawa Puskesmas tapi malah ke dukun. Ya kita tidak bisa menyalahkan begitu saja, ini akibat pola pikir mereka tentang kesehatan masih begitu dangkal," kata Indra. Untuk mengatasi hal ini, sambung Indra, pihaknya bersama kelompok PKK terus memberikan penyuluhan kepada masyarakat, yang khususnya yang berada di pedesaan. "Kita melibatkan ibu-ibu PKK untuk memberikan penyuluhan tentang penyakit DBD ini. Lewat penyuluhan, diharapkan, warga tidak lagi melakukan pengobatan BDB ke dukun, tapi ke Puskesmas terdekat," kata Indra. Indra juga mengatakan, penyebaran DBD saat ini tidak terlepas dari perubahan iklim dan kondisi geografis Inhil. Desa-desa di Kabupaten Inhil sebagian besar berada di pinggiran pantai Selat Malaka sehingga air pasang sering menggenangi sejumlah desa. "Daerah kita ini memang sebagian besar mengalami pasang surutnya air laut. Nah ini yang menyebabkan penyebaran penyakit DBD tengah menghantui penduduk. Kendati demikian, kita belum menetapkan pada KLB," kata Indra. Sedangkan Humas RSUD Arifin Achmad, Pekanbaru, Nujeili kepada detikcom, menyebut, selama bulan Januari, pihaknya menangani 18 kasus DBD yang mesti rawat ini. Dari jumlah itu, dua orang anak meningal dunia. "Dua orang anak itu meninggal karena terlambat membawanya ke rumah sakit. Artinya anak itu sudah menderita DBD beberapa hari, baru selanjutnya dibawa ke rumah sakit," kata Nujeili.
(cha/djo)











































