Adu Mulut dan Rebutan Mikrofon Warnai Sidang Muktamar PPP
Kamis, 01 Feb 2007 16:35 WIB
Jakarta - Baru sejam digelar, sidang Komisi A Muktamar VI PPP ricuh. Muktamirin berebutan mendaftarkan namanya untuk mengajukan pertanyaan seputar keorganisasian. Sidang akhirnya diskors.Kericuhan berawal saat pembahasan sidang memasuki Bab VII tentang Kepemimpinan Wilayah dan Daerah. Pembahasan ini mengundang antusiasme muktamirin untuk mengajukan pertanyaan.Ketua sidang Lena Maryana Mukti lantas meminta muktamirin yang ingin bertanya mendaftarkan namanya lebih dulu ke Lena yang memimpin sidang dari atas panggung. Perintah langsung mendapat sambutan muktamirin. 20 Peserta langsung maju ke depan mendekati meja Lena. Mereka berebutan mendaftarkan namanya. "Saya dulu, saya dulu," begitu yang terdengar. Suasana jadi gaduh.Kegaduhan ini membuat peserta yang lain protes. "Ini karena pimpinan sidang tidak cerdas, kenapa harus ada pendaftaran untuk bertanya. Seharusnya berikan saja kesempatan tiap-tiap wilayah bertanya, tidak usah buka pendaftaran!" teriak seorang muktamirin asal Sulsel di ruang sidang di Krakatau Room Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Barat, Kamis (1/2/1007) pukul 15.40 WIB.Melihat situasi yang makin tidak terkendali, Lena pun meminta muktamirin tertib."Harap kepada para muktamirin untuk satu per satu mendaftar. Harap tenang," imbau perempuan berjilbab hijau ini.Imbauan itu tidak digubris, muktamirin tetap saja berebutan untuk mendaftarkan namanya.Bahkan salah seorang muktamirin tampak merebut mikrofon yang dipegang Lena. Namun Lena mempertahankannya dan adu mulut pun terjadi. Saking gaduhnya suasana, adu mulut tidak terdengar jelas. Semuanya saling teriak-teriak.Suasana semakin ricuh dan 20 Satgas PPP berbaju serba hitam pun mengamankan situasi. Beberapa muktamirin juga ada yang memilih meninggalkan ruangan.Satgas meminta wartawan yang meliput ke luar ruangan hingga situasi normal kembali.Sidang yang semula berlangsung terbuka ini diskors hingga waktu yang tidak ditentukan. Hingga pukul 16.00 WIB, sidang Komisi A PPP belum juga dimulai lagi.
(aan/nrl)











































