Bencana Alam Picu Penjualan Anak
Selasa, 30 Jan 2007 13:10 WIB
Jakarta - Bencana alam yang melanda Indonesia menyebabkan sejumlah anak terpaksa kehilangan orangtuanya. Penjualan anak pun merajalela."Banyaknya bencana alam di Indonesia memperbanyak anak tanpa orangtua, sehingga penjagaan terhadap mereka sangat sulit. Itu yang membuat mereka dijual sembarangan dan korban trafiking merajalela," kata Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Giwo Rubianto Wiyogo.Hal ini disampaikan dia dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VIII DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (30/1/2007).Namun demikian, Giwo mengaku KPAI belum mendeteksi kasus penjualan anak pada tahun 2006. Rencananya, kasus itu baru akan menjadi agenda utama pada tahun 2007."Seperti tsunami di Aceh saja belum bisa kami deteksi berapa jumlah korban trafiking. Lalu gempa bumi di Yogya juga belum," ujarnya.Giwo memaparkan, ada 376 kasus pengaduan yang masuk ke KPAI, terdiri dari pengaduan hak kuasa asuh anak (21,80%), tindak kekerasan terhadap anak (12,50%), pendidikan anak (11,17%), penelantaran anak (10,90%), seksualitas kepada anak (10,37%), hak identitas (17,28%), kesehatan dan kesejahteraan (13,56%), serta penculikan anak (2,39%).KPAI DaerahUntuk mengoptimalkan perlindungan anak, lanjut dia, KPAI gencar membentuk KPAI Daerah. Namun dalam pelaksanaannya, ada beberapa provinsi yang tidak mendukung, seperti Jawa Timur."Masih banyak yang tidak mendukung KPAID karena daerah belum memprioritaskan perlindungan anak sebagai masalah yang penting," kata Giwo.Provinsi yang sudah ada KPAID, antara lain Jambi, Lampung, Banten, Sumatera Utara, Aceh, Riau, Kalimantan Barat, Jawa Barat, Makassar. Sedangkan di kota antara lain Cirebon, Bandung, dan Kutai.Anggaran yang dihabiskan KPAI tahun 2006 sebanyak 82,24 % yakni Rp 9,6 miliar dari Rp 12 miliar.
(aan/sss)











































