Mencoba Sekali, Selanjutnya Juni

Busway Koridor IV-VII

Mencoba Sekali, Selanjutnya Juni

- detikNews
Selasa, 30 Jan 2007 10:44 WIB
Jakarta - Kata iklan: kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda. Tapi pengalaman menjajal busway koridor IV-VII di jam kantor, jargonnya menjadi: kesan pertama begitu mengecewakan, selanjutnya Juni.Maksudnya, pengalaman pertama naik koridor baru itu cukup mengecewakan sehingga tidak akan mencoba lagi untuk yang kedua kalinya hingga bulan Juni. Kenapa Juni? Sebab saat itu armada busway koridor IV-VII telah sesuai bandrol, yaitu 54 armada per koridor.Saat ini, masing-masing koridor IV-VII hanya dilayani 8 unit bus saja. Itu pun masih pinjam koridor I-III.8 Unit jelassangat sedikit dibandingkan calon penumpang -- yang sebagian besar berada di pinggir Jakarta -- yang melihat busway sebagai angkutan umum impian.Akhir Februari, Dishub menjanjikan bus bertambah menjadi 14 unit. Setiap bulan armada bertambah hingga tercapai titik ideal pada pertengahan tahun."Saya mulai besok kembali ke angkot," kata Ika yang hendak menuju ke Jatipadang, Jakarta Selatan, Selasa (30/1/2007). Ika naik dari halte Pasar Rumput. Dia harus naik busway koridor IV Pulogadung-Dukuh Atas untuk menuju transfer terminal (transter) Halimun guna oper bus koridor IV Halimun-Kuningan-Ragunan.Ika menunggu di halte pada pukul 07.45 WIB. Baru pukul 08.10 WIB, bus menuju Dukuh Atas datang. Itu pun sangat luar biasa padat. Ika tertolak masuk. Ika harus menunggu 20 menit lagi untuk menanti bus. Tapi bus yang datang, lagi-lagi menolaknya masuk.Dari 8 orang yang senasib dengan Ika, tiga orang di antaranya memutuskan untuk keluar dari halte dan pindah angkutan umum karena tidak sabar. Mereka pun 'rugi bandar' Rp 3.500.Baru pada bus ketiga, Ika akhirnya terangkut. Bus sangat padat. Saking padatnya, tidak semua penumpang yang bermaksud turun di Halte Pasar Rumput, bisa keluar.Selain padat penumpang, penyebab lainnya penumpang gagal turun adalah tidak adanya displai otomatis penunjuk halte seperti di koridor I-III. Informasi hanya diteriakkan oleh petugas busway yang suaranya nyaris tak terdengar. Maklum, bus itu pinjaman koridor lain. Pada penumpang yang gagal turun itu akhirnya turun di halte selanjutnya, Halte Halimun.Di Halte Halimun, yang merupakan halte terakhir bagi penumpang dari Ragunan-Kuningan dan halte pertama bagi mereka yang menuju arah sebaliknya, penumpang yang hendak turun dan hendak naik, saling berebutan tak mau kalah. Teriakan petugas busway agar yang turun diprioritaskan lebih dulu, tidak digubris. Rebutan semacam ini jelas berbahaya bagi wanita hamil dan orang tua. Busway untuk saat ini memang hanya cocok bagi orang muda yang berbadan sehat."Saya besok kembali ke Kopaja P20 saja," komentar Ika. Perjalanan dari rumah ke kantor yang biasanya 1 jam, dengan busway dia tempuh 1,5 jam.Namun Yanti, warga Pulomas, tetap akan mengantor dengan busway meski dia harus berdempetan seperti sarden. "Perjalanan lebih santai, soalnya jam kantor saya agak fleksibel. Meski kalau turun jadinya haus," cerita karyawati yang sejak Senin kemarin naik busway dari Halte Sunan Giri, Jalan Pemuda."Tolong Mbak, dikritik dong," katanya pada detikcom.E-mail PembacaPembaca detikcom, Priska Angelia, menulis e-mail menceritakan pengalamannya berbusway ria dari Jatinegara-Senen. "Fasilitasnya sudah cukup OK, cuma busnya masih jarang sehingga nunggunya lama. Kebetulan saya foto lewat HP di Halte Jatinegara. Terlihat sebelah kiri jalan cukup rapi, tidak ada pedagang kaki lima dan di trotoar di pasang pot dengan pohon palem setinggi 3 meter. "Tapi sebelah kanan busway tampak masih kacau, banyak pedagang kaki lima sehingga jalan ke arah kampung melayu macet dan tampak tidak rapi. Tolong sampaikan ke pemda agar masalah ini dapat ditangani," tulisnya. Sedangkan Mohamad Yusuf yang bekerja di Duren Tiga menulis:Melihat perkembangan pembuatan jalur khusus busway sedikit banyak terlihat menggembirakan. Secara umum, misalnya, pemandangan di Jalan Mampang Prapatan lebih indah dan teratur. Meski juga terlihat teratur macetnya sepanjang Jalan Pejaten hingga Mampang Prapatan. Selain itu kalau kita perhatikan di jalan Mampang, sejak perempatan Duren Tiga hingga Pasar Mampang, hanya ada dua jembatan penyeberangan, yakni di perempatan Duren tiga (depan DPP PKS) dan di depan Pasar Mampang. Hal ini sangat membahayakan para pejalan kaki yang ingin menyeberang. Atau pemda ingin menunggu sampai ada korban terlebih dahulu (sebagai manusia percobaan?) baru dibuatkan jembatan. Apalagi semenjak ada pembangunan jalur busway, kendaraan yang berlalu lalang di jalur reguler semakin kencang(khususnya arah Mampang-Pasar Minggu). Dengan surat ini mohon kiranya Pemda DKI mengambil tindakan dengan membuat jembatan penyeberangan diantara jalan mampang tersebut. (nrl/sss)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads