Stasiun Tanjung Priok Tak Terawat, Jadi Sarang Gepeng

Stasiun Tanjung Priok Tak Terawat, Jadi Sarang Gepeng

- detikNews
Senin, 29 Jan 2007 18:01 WIB
Jakarta - Kondisi Stasiun Tanjung Priok makin memprihatinkan. Bangunan tua peninggalan Belanda yang bersebelahan dengan terminal Tanjung Priok itu sudah lama tak tersentuh cat. Dinding bangunan mulai rontok di beberapa titik. Kini, stasiun itu jadi sarang gelandang dan pengemis (gepeng). Bagian depan stasiun yang berdiri di Jl RE Martadinata, Jakarta Utara itu terisi pemandangan kantor-kantor jasa seperti penjualan tiket kapal laut, pengiriman barang hingga jasa penukaran uang asing dan wartel. Lebih miris, tulisan 'WC Umum' lebih mencolok dan dominan daripada papan nama 'Stasiun Tanjung Priok' sendiri.Di bagian dalam, ruangan stasiun terlihat temaram lantaran tiadanya penerangan yang memadai. Besi beton penyangga kanopi raksasa sudah menghitam. Sementara lima rel kereta tidak berfungsi lagi. Hanya satu rel beroperasi yang khusus untuk mengangkut kereta peti kemas. Itu pun tidak lebih dari sembilan pemberangkatan sehari-semalam."Kondisinya memang memprihatinkan. Sudah tak ada kereta penumpang (sejak tahun 2000). Hanya kereta barang peti kemas untuk kepentingan industri," ujar Kepala Humas Daerah Operasi I (Kahumas Daops I) PT KA Ahmad Sujadi membenarkan ketika dihubungi detikcom, Senin (29/1/2007).Menurut Sujadi, pihaknya menyerahkan pengelolaan gedung yang dibangun hampir satu abad lampau itu kepada Dinas Pariwisata dan Permuseuman DKI Jakarta. Sementara untuk mengaktifkan kembali kereta penumpang, pihaknya mengaku kesulitan."Itu sudah ditangani oleh dinas permuseuman. Rencananya sih mau dihidupkan lagi (KA penumpang) Priok-Kota, tapi susah. Banyak bangunan rumah warga di jalur itu," keluh Sujadi.Menurut pantauan detikcom di stasiun Tanjung Priok, puluhan rumah liar telah berdiri menghalangi jalur rel. Rumah yang dibangun dari kardus atau triplek itu dihuni para pemulung, gelandangan, pengemis dan anak jalanan. Bahkan beberapa pemuda preman ikut terlihat."Saya di sini sejak dua tahun lalu. Sudah ada seperti ini. Ya ikut aja," ujar Darini, 52, pemulung asal Indramayu penghuni rumah kardus di stasiun Tanjung Priok.Darini tidak sendiri. Ada puluhan yang berprofesi serupa. Puluhan lainnya ada yang mengasong, mengamen atau mengemis. "Asal tidak digusur saja sudah ikhlas. Teman dari kampung banyak. Yang ketemu di sini lebih banyak lagi," tambah Darini dengan mencoba untuk tetap tersenyum. (Ari/asy)


Berita Terkait