Busway Laris, Angkot Menjerit
Senin, 29 Jan 2007 09:51 WIB
Jakarta - Penambahan jalur busway koridor IV-VII mendapat sambutan baik dari masyarakat. Tapi tentu saja ada yang merana akibat kehadiran busway: sopir angkot.Kehadiran busway di arena persaingan transportasi Jakarta tentu sangat membantu para pekerja. Bebas macet dan cepat. Keterlambatan datang ke kantor juga bisa diminimalisir.Jika para pegawai bisa tenang, tidak dengan para sopir angkutan kota. Contohnya Purwanto, sopir Mikrolet M 01 A. Lelaki berusia 43 tahun tersebut terpaksa harus berkipas-kipas selama 30 menit di Kampung Melayu menunggu penumpang memenuhi angkotnya."Biasanya cuma nunggu 10 menit sudah penuh. Tapi sekarang harus menunggu sampai 30 menit lebih baru berangkat," keluh Purwanto kepada detikcom di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur, Senin (29/1/2007).Tentu saja hal ini mempengaruhi pendapatan sopir jurusan Kampung Melayu-Senen tersebut. Jika biasanya empat kali bolak-balik Kp Melayu-Senen sudah mengantongi Rp 100 ribu, kini hanya bisa mengumpulkan Rp 50 ribu saja."Hari ini belum terasa banget efeknya, soalnya buswaynya masih sedikit. Kemungkinan ke depannya akan makin menurun," ujar Purwanto pasrah.Keluhan semacam ini juga dikeluhkan sopir lainnya yang senasib dengan Purwanto. Bahkan, seorang sopir Metromini jurusan Kampung Melayu-Pulogadung mengeluhkan kemacetan di jalan yang dilalui busway koridor VI (Ancol-Kampung Melayu). "Di daerah Matraman macet. Biasanya tidak begini," kata sopir Metromini tersebut.Berdasarkan pantauan detikcom, jalan yang dilalui busway memang cukup padat. Sementara busway yang penuh dengan penumpang melenggang lancar di jalurnya, kemacetan terjadi di jalan sebelahnya. Bukan hanya di Jalan Matraman, juga di Otista yang menuju Kampung Melayu.
(ana/nrl)











































