Angin Agak Reda, Kami Lariii

Kyrill di Belanda:

Angin Agak Reda, Kami Lariii

- detikNews
Jumat, 19 Jan 2007 16:43 WIB
Jakarta - Tak cuma di Jerman, warga Indonesia di Belanda juga gemetaran menghadapi Kyrill. "Kalau angin agak reda kami lariiiiiiiiiiii!" cerita Sita Carli, pembaca detikcom di Belanda, Jumat (19/1/2007).Berikut kisah Sita tentang Kyrill:Tidak hanya di Jerman, badai Kyrill juga menghantam negeri kincir angin Belanda lho! Dan angin semacam ini konon belum pernah terjadi sepanjang sejarahnya. Angin dengan kekuatan tinggi ini mengalami dua kali masa kritis yakni siang mulai pukul 15.00-17.00 yang diwarnai hujan deras kemudian mulai agak mereda walau masih kencang anginnya. Kemudian memuncak lagi mulai pukul 21.00. Tercatat juga korban jiwa namun saya tidak tahu persis namun kebanyakan ya karena berkaitan dengan pohon. Bahkan ada bus umum yang tidak bisa terkontrol lagi menabrak pohon dan mengakibatkan 6 penumpangnya terluka. Atap sekolahan di kota Almere bahkan tertiup angin dan ada juga sebuah bangunan yang menyerupai cerobong tumbang.'Hebatnya' pemerintah Belanda, walau sudah diberitahu oleh pusat krisis agar sebaiknya tinggal di rumah, pemerintah tidak mengeluarkan pernyataan anak-anak libur sekolah. Namun begitu toh ada beberapa sekolah yang mengadakan sekolah hanya hingga pukul 12.00. Anak saya sendiri usia 6 tahun harus tetap sekolah hingga pukul 15.15. Untung saja rumah kami sangat dekat dengan sekolah, kalau lari hanya perlu 1 menit! Itu pun kami akali. Kalau angin agak reda kami lariiiiiiiiiiii! Saya sendiri sempat agak terpental namun bisa berpegangan pada pagar sebuah sekolahan.Pada puncak krisis siang hari semua pot tanaman di rumah bergetar tiada henti dan pada krisis malam hari bahkan jendela di ruang tamu saya sampai melengkung. Kami tinggal di flat lantai 5. Jadi kami bisa melihat ketika pohon-pohon tersapu angin dengan suaranya yang subngguh mengerikan! Satu pohon besar pada malam hari bahkan tumbang di sekitar flat saya tinggal.Seperti di Jerman, juga bandara dan stasiun kereta api ditutup sehingga pemerintah pun melalui gementeenya (semacam balai kota) menyediakan tempat tidur lipat baik di bandara maupun stasiun KA. Banyak sekali tua maupun muda terpaksa bermalam karena memang tidak ada angkutan yang membawa mereka. Seorang ibu hamil asal Belgia yang baru menghadiri sebuah rapat di Utrecht termasuk yang harus bermalam di stasiun KA Utrecht karena tidak ada KA yang membawanya pulang ke Belgia. Palang Merah setempat sangat memperhatikan kondisinya dan ia diberi kesempatan pertama untuk dapat menikmati bed lipat serta selimut hangat. (nrl/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads