Istana: Biaya Hotel Rombongan Presiden Memang Lebih Tinggi
Jumat, 19 Jan 2007 14:03 WIB
Jakarta -
Biaya menginap rombongan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Hotel Shangri-La, Mactan di Cebu, Filipina, yang dibayarkan oleh Sekretariat Negara (Setneg) memang lebih tinggi dibanding tarif normal. Jadi benar ada mark-up? "Memang yang kami bayar lebih tinggi. Tapi itu adalah tarif yang mereka (menajemen hotel) ajukan, dengan alasan waktunya itu (saat KTT ASEAN berlangsung) tergolong peak season," kata Kepala Biro Rumah Tangga (Karumga) Istana Kepresidenan, Ahmad Rusdi, yang ditemui seusai salat Jumat di Masjid Baiturahman, Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (19/1/2007). Tawaran harga untuk dua hari menginap dari menajemen hotel Shangri-La Mactan, diterima sekitar pertengahan Oktober 2006. Harga tersebut sama dengan tarif yang diberlakukan pada delegasi dari negara-negara maju lain mitra dialog ASEAN. Karena keterbatasan fasilitas akomodasi yang 'layak' untuk ukuran Kepala Negara, sementara kebutuhannya sudah mendesak, mau tidak mau tarif menginap di atas harga normal itu diterima. "Kalau kita tidak segera beri jawaban, mereka akan tawarkan ke negara lain. Ada 10 negara lain lho yang juga inginkan hotel itu," ujarnya. Sayangnya, Rusdi mengaku tidak tahu persis berapa selisih dari kenaikan tarif hotel tersebut. Tapi ia kembali menegaskan, berdasar penyelidikan internal pada tim advance, bukan anak buahnya yang meminta kenaikan tersebut.Kebijakan menajemen hotel menaikkan tarif pada saat peak season, sebenarnya lazim terjadi. Tidak hanya di musim liburan, tapi juga saat berlangsung peristiwa lain di daerah itu.
(lh/asy)










































