Musibah Transportasi Disepelekan

detikPolling

Musibah Transportasi Disepelekan

- detikNews
Jumat, 19 Jan 2007 13:50 WIB
Jakarta - Bukan sekali dua kali musibah transportasi bertubi-tubi terjadi di negeri ini, tapi sudah melebihi jari tangan seorang manusia. Padahal pepatah berkata, sebodoh-bodohnya keledai tidak akan jatuh di lubang yang sama.Tentulah pemerintah Nusantara jauh lebih pintar dari keledai karena Tanah Air ini dipimpin dan diolah orang-orang berintelektual tinggi. Regulasi ada, pengawasan ada, pengecekan ada. Nyaris tak ada yang kurang.Namun herannya, musibah transportasi terus terjadi bertubi-tubi. Apa yang salah? Hasil detikPolling menganggap musibah transportasi di Bumi Pertiwi ini kerap disepelekan, baik dalam hal antisipasi maupun penanganannya.Polling dibuka pada 5 Januari 2007 pukul 13:10:01 WIB. Pertanyaan yang muncul adalah: Musibah transportasi kembali terjadi bertubi-tubi. Seriuskah pemerintah mengantisipasi dan menanganinya?. Ada tiga jawaban yang bisa dipilih, yakni "serius", "kurang serius", dan "tidak serius".Hasil polling hingga Jumat (19/1/2007) pukul 13.30 WIB, 2.417 suara telah masuk. Dari total responden, 1.402 suara (58,01%) memilih tidak serius, 765 suara (31,65%) memilih kurang serius, 250 suara (10,34%) memilih serius.Di penghujung tahun 2006, dua kapal karam. KM Tristar I diterjang ombak hingga terjungkir dan terbalik di Selat Bangka pada 28 Desember 2006. 27 dari 58 penumpangnya meninggal. Butuh lebih dari 2 minggu mengevakuasi jasad yang terjebak di lambung kapal yang karam.Lalu KM Senopati Nusantara karam di Pulau Mandalika, Jepara, Jawa Tengah, pada 30 Desember 2006. Seratusan penumpang meregang nyawa.Tahun 2007 pun dibuka dengan duka. Kala itu baru hari pertama tahun baru. Pesawat AdamAir KI 574 menghilang setelah take off dari Surabaya menuju Manado. 102 Penumpang dan kru tak diketahui rimbanya. Hanya serpihan demi serpihan pesawat yang mulai dimuntahkan laut ke bibir pantai Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, dua minggu setelahnya.Rangkaian gerbong KA Bengawan jurusan Solo-Tanah Abang terlepas saat melintas di atas jembatan pada Selasa 16 Januari 2007 pukul 00.00 WIB. Satu gerbong tercebur ke sungai, satu gerbong di belakangnya terguling. 5 Orang tewas dan seratusan orang terluka.Kambing hitam yang jadi langganan dari semua musibah transportasi adalah cuaca, technical problem, dan human error.Padahal manusia diberi akal dan kecerdasan yang melebihi makhluk lain untuk mengatasi atau bahkan menghindari masalah.Jika cuaca buruk, ya jangan ada armada yang bepergian. Jika armada rusak atau sudah uzur, ya diperbaiki atau bahkan jangan digunakan lagi. Jika masinis, nakhoda, pilot dalam kondisi tidak prima, ya jangan dibiarkan bekerja overtime.Pun begitu terjadi musibah transportasi, pemerintah heboh berkoordinasi, sibuk membuat tim ini dan itu, jumpa pers bla...bla...bla... Sementara korban justru 'dipungut' oleh rakyat kecil seperti nelayan dan warga setempat. Pemerintah hanya pura-pura serius. Begitu tuding banyak pihak.Meski demikian polling ini tidak bersifat ilmiah dan hanya mencerminkan opini para pembaca detikcom yang berpartisipasi dalam detikPolling. (sss/asy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads