Pasien Gakin Membludak, RSHS Terpaksa Dirikan Tenda
Jumat, 19 Jan 2007 12:59 WIB
Bandung - Membludaknya pasien Askes Gakin membuat Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), Bandung, Jawa Barat, kewalahan. RSHS sampai-sampai harus mendirikan tenda darurat untuk menampung mereka.Tenda putih yang biasa digunakan untuk kafe-kafe pinggir jalan itu didirikan di lobi lantai 2 Instalasi Gawat Darurat.Di lobi tersebut, pihak rumah sakit mendirikan 9 tenda yang masing-masing berukuran 3x3 meter. Sebanyak 8 tenda digunakan untuk ruang perawatan pasien dan 1 tenda lagi untuk administrasi.8 Tenda untuk pasien dibangun berhadap-hadapan. Tenda ini mampu menampung 20 pasien. Tempat tidur yang dipakai pasien berupa velbed dan brankar (tempat tidur dorong).Tenda-tenda yang dinamakan ruang Observasi II ini tidak bersekat. Namun pihak rumah sakit menyediakan satu papan penghalang yang digunakan secara bergantian jika ada pasien yang ingin berganti baju atau dilakukan tindakan.Wakil Kepala IGD RSHS Nirmala Kusuma, Jumat (19/1/2007) mengatakan, pendirian tenda ini dilakukan karena ruang rawat inap kelas 3 di RSHS sudah penuh, sehingga sejak Senin 15 Januari 2007 mereka membuat tenda.Dia mengatakan, saat ini pasien Askes Gakin sangat banyak karena sejumlah puskesmas dan RSUD merujuk mereka ke RSHS."Saya heran, kenapa pasien-pasien yang bisa ditangani ke RSUD merujuknya ke RSHS, seperti usus buntu, amandel. Bahkan flu burung pun harusnya bisa ditangani di sana," kata Nirmala.Nirmala tidak tahu alasan puskesmas dan RSUD yang merujuk pasiennya ke RSHS. "Tanyakan saja ke mereka. Saya juga bingung kenapa. Padahal dengan banjirnya pasien, jelas mengurangi kenyamanan bagi pasien dan keluarganya," tutur Nirmala.Setiap bulannya, pasien RSHS, imbuh Nirmala, mengalami peningkatan 150-200 persen, dan 40-50 persen merupakan pasien Askes Gakin.Sementara penanggung jawab Ruang Observasi II Leni Herliana mengatakan, sebetulnya tenda yang dibangun tidak kuat. "Tapi karena ada di dalam ruangan itu tidak jadi soal," kata dia.Salah satu keluarga pasien yang dirawat di bawah tenda, Ny Iot (50), pasrah anaknya dirawat di bawah tenda."Mau bagaimana lagi, saya ke sini juga pakai Askes Gakin. Mau ruangan yang lebih enak kan harus punya uang. Tapi Ibu sih enak aja, nggak panas di sini," katanya.
(umi/sss)











































