Manuver Potong Kompas Membuat Presiden SBY Prihatin

Manuver Potong Kompas Membuat Presiden SBY Prihatin

- detikNews
Rabu, 17 Jan 2007 09:22 WIB
Jakarta - Presiden SBY memang prihatin. Juga tersentil oleh aksi Hariman Siregar. Kegelisahan itu tertuju lebih pada munculnya manuver-manuver potong kompas, yang justru merusak proses demokrasi yang sedang dibangun. "Repotnya, itu semua justru dilakukan oleh tokoh-tokoh yang seharusnya jadi panutan," kata Jubir Kepresidenan, Andi Mallarangeng kepada detikcom, Rabu (17/1/2007). "Kok masih ada yang tergoda dengan menggunakan cara potong kompas untuk meraih kekuasaan," tandas Andi. Itulah, menurut Andi, yang membuat Presiden SBY gelisah sekaligus prihatin. Presiden, menurut Andi, mengajak seluruh komponen bangsa, secara bersama-sama menjalankan proses demokrasi berdasarkan konstitusi yang ada. "Ada partai politik. Ada pemilu setiap 5 tahun sekali. Mari kita semua bersaing secara fair. Tidak perlu potong kompas yang justru terjebak pada tindak yang inskonstitusional," tandas pria berkumis tebal itu. "Di dalam persaingan yang fair itu, yang menang mengayomi semuanya, termasuk yang kalah. Sebaliknya, yang kalah menghormati dan berjiwa besar, sembari menunggu persaingan dalam pemilu berikutnya. Itu baru demokrasi," kata Andi. Jadi, menurut Andi, realitas potong kompas itulah yang membuat Presiden SBY tersentil ataupun gelisah. "Kegelisahan itu bukan bersifat pribadi, tapi lebih pada soal kebangsaan," tandas Andi. Untuk kepentingan pribadi SBY, masih menurut Andi, tidak ada kegelisahan yang berkaitan dengan aksi yang dimotori Hariman Siregar. "Jumlah massanya kan tidak besar. Dan secara fakta tak mungkinlah itu bisa menjatuhkan presiden," kata Andi. (nrl/nrl)


Berita Terkait