Kisah Tudingan Teroris, Koper, dan Baju Batik Ditawar Orang

Catatan dari KTT Asean

Kisah Tudingan Teroris, Koper, dan Baju Batik Ditawar Orang

- detikNews
Selasa, 16 Jan 2007 13:20 WIB
Cebu - KTT ASEAN usai sudah. Banyak deklarasi dan nota kesepakatakan yang ditandatangani. Tapi ada beberapa cerita yang tersisa dari KTT tersebut. Ada hal-hal unik, menyebalkan, sekaligus menggelikan yang dialami beberapa wartawan Indonesia yang meliput acara tersebut.Seperti yang dialami Emma Salamah, reporter TVRI yang berangkat dengan tim advance biro pers Istana. Berangkat pada sehari sebelum KTT, menggunakan Malaysia Airline, menuju Kuala Lumpur, lanjut ke Manila, kemudian ganti dengan Philippine Airline menuju Cebu. Perjalanan yang melelahkan itu menjadi lebih menyebalkan untuk Emma. Karena ketika tiba di Manila, baru ketahuan kalau kopernya tidak ada. Setelah dilakukan pelacakan, barulah diketahui bahwa kopernya tertinggal di Kuala Lumpur. Padahal semua data dan perlengkapan selama 5 hari liputan ada di koper tersebut.Atas solidaritas teman-teman seperjalanan, akhirnya Emma pun melakukan liputan KTT 2 hari pertama dengan baju dan berbagai perlengkapan pribadi pinjaman lainnya. Koper yang ditunggu pun akhirnya sampai pada hari ketiga di Cebu. Cerita menggelikan dialami oleh wartawan RRI Heriyoko. Usai Presiden SBY dan rombongan meninggalkan Cebu pada tanggal 14 Januari 2007, Heriyoko menggunakan pakaian batik, tidak jas seperti 2 hari sebelumnya. Dan ternyata batik yang dikenakannya itu membuat terpesona dua orang Filipina di CICC (Cebu International Convention Centre). Mereka pun mendekati Heriyoko dan menyampaikan niat mereka untuk membeli baju batik yang dikenakannya. Heriyoko pun bingung sekaligus geli. Kok baju yang sedang dipakai ditawar orang."Ternyata mereka serius dengan keinginan membeli batik yang saya pakai ini. Karena saya terus dikuntit, sampai akhirnya saya pun menyerah. Saya katakan bahwa saya harus kembali ke Shangri-La hotel untuk ganti baju, dan ternyata mereka mau mengikuti saya ke hotel untuk mendapatkan batik yang saya pakai," kata Heriyoko.Akhirnya transaksi pun terjadi. Si pembeli yang ternyata seorang General Manager sebuah perusahaan PR di Filipina itu memberikan uang sebesar 500 peso (sekitar 100 ribu rupiah) kepada Heriyoko. "Mereka minta dikirimkan batik dari Indonesia, karena ternyata selama ini batik yang masuk ke Filipina berasal dari Cina dan Malaysia, dan motifnya kalah bagus dengan batik dari Indonesia," kata Heriyoko dengan sumringah.Cerita lain dialami oleh Hadiyanto. Pewarta foto Antara ini mengalami kejadian tidak enak dengan harus mengalami penyergapan di taksi yang sedang dikendarainya karena disangka teroris. Hadiyanto menuturkan bahwa pada Minggu malam, 14 Januari setelah meliput di Shangri-La, dia menggunakan taksi untuk pulang menuju hotel Sanglec Traveller Inn tempat-nya menginap di Lapu-lapu city, sekitar 30 menit dari Mactan, tempat KTT berlangsung.Baru sekitar 10 menit dalam taksi, tiba-tiba dua kendaraan polisi dengan 6 orang aparatnya menyergap taksi yang dikendarainya. Dia pun kemudian diminta mengangkat tangan, tidak boleh bergerak, seperti layaknya penyergapan terhadap penjahat, semua barangnya diperiksa termasuk taksi dan sopirnya. Kemudian Hadiyanto dibawa ke kantor polres Lapu-lapu city untuk menjalani pemeriksaan selama kurang lebih 1,5 jam. Proses pemeriksaan yang berjalan kurang lancar, karena kendala bahasa, sangat memungkinkan terjadinya miskomunikasi. Aparat tidak begitu saja mempercayai keterangan Hadiyanto. Padahal Hadiyanto menunjukkan semua identitas resmi yang dimilikinya sebagai wartawan peliput resmi KTT ASEAN XII. ID resmi, security check yang menempel di kamera yang dibawanya. Sampai akhirnya staf KBRI Manila turun tangan untuk mengklarifikasi, dan Hadiyanto pun diperbolehkan pulang. Pada perbincangan singkat dengan detikcom di Bandara Mactan International, Cebu sebelum bertolak menuju Singapura terus kembali ke Jakarta, Hadiyanto mengungkapkan kekecewaannya. "Saya sangat kecewa dengan perlakuan polisi Filipina itu. Saya kan sudah memiliki ID resmi yang dikeluarkan oleh panitia KTT. Saya tunjukkan kartu tersebut dan saya katakan, yang mengeluarkan ID ini pemerintahan anda, dan saya tegaskan kepada mereka bahwa Yes I'm a moslem but I'm not a terrorist," kata Hadiyanto. Hadiyanto pun menuturkan bahwa dirinya selama di Cebu itu selalu dikuntit oleh aparat. "Saya merasa kalau selalu diikuti oleh polisi setempat, ke mana pun saya pergi, terutama di sekitar Shangri-La ( tempat KTT berlangsung )," kata Hadiyanto. Kombes Pol. Bambang Usadi, Senior Liasion Officer Polri di KBRI Manila mengatakan bahwa profil Hadiyanto secara keseluruhan dengan janggut di dagunya, membuat aparat yang mengamankan KTT menjadi waspada dan curiga. "Menurut saya, pemeriksaan selama 1,5 jam masih termasuk wajar dan mereka hanya melakukan tugasnya untuk memastikan bahwa pelaksanaan KTT berlangsung dengan aman," kata Bambang kepada detikcom di Bandara Ninoy Aquino Manila. Begitulah sedikit cerita yang tersisa di tengah-tengah hiruk pikuk peliputan KTT ASEAN XII, di Cebu Filipina. Sampai bertemu di KTT XIII Asean di Singapura! (asy/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads