Ratusan Jamaah Haji Visa Umrah Keleleran di Arab Saudi
Senin, 15 Jan 2007 07:12 WIB
Jeddah -
Banyak jamaah haji asal Indonesia yang nekad berangkat dengan visa umrah. Mereka pergi sejak bulan Ramadan lalu dan bertahan hingga puncak musim haji. Namun banyak di antara mereka yang akhirnya terlantar. Setidak hal itu dialami oleh ratusan jamaah haji visa umrah yang ditemui di pinggir Jl Malik Fahad, Jeddah, Arab Saudi. Mereka mengaku berasal dari Banjarmasin, Kalimantan Timur. Jika malam tiba, mereka tidur di tenda-tenda kecil yang dibawa dari tanah air. Banyak juga yang tidur di alam terbuka begitu saja, padahal udara di Jeddah saat ini tengah memasuki musim dingin. Untuk urusan mandi, cuci dan kakus, para jamaah haji umrah ini memanfaatkan bangunan mushalah atau masjid yang ada di sekitar lokasi tersebut. "Kita sudah dua malam di sini, ya menunggu untuk di bawa masuk ke tahril (penjara) terus dipulangkan ke Indonesia," kata Ajis Suryama, salah seorang jamaah kepada detikcom, Senin (15/1/2007). Menurut Ajis, dia dan ratusan temannya tiba di Arab Saudi sejak 3 bulan lalu. Mereka datang dengan menggunakan visa umrah. Masing-masing jamaah dipungut biaya sekitar Rp 13 juta hingga 15 juta oleh pihak yang mereka sebut sponsor.Mereka berangkat dengan menggunakan pesawat Garuda Indonesia. Seperti jamaah haji yang resmi diselenggarakan pemerintah, oleh sponsor ditempatkan di pemondokan dengan dipungut biaya sekitar 600 Riyal. Untuk urusan makan, para jamaah haji visa umrah ini diminta untuk mengurus sendiri.Visa umrah sendiri hanya berlaku selama 15 hari. Namun para jamaah ini sengaja melanggar peraturan tersebut. Mereka tetap bertahan di Arab Saudi hingga musim haji tiba. Karena itu, mereka juga kerap disebut sebagai penduduk over stay. Mereka harus main petak umpet dengan petugas imigrasi setempat hingga puncak musim haji. "Yah kami tidak punya pilihan lain.Kalau tidak dengan cara begini, kami tidak bisa pergi berhaji. Teman-teman sekampung lainnya juga banyak yang seperti ini," tutur Ajis.Diakui Ajis, cara yang mereka tempuh ini memiliki risiko yang cukup besar. Selain harus meninggalkan kampung halaman dalam waktu yang cukup lama, fisik jamaah haji visa umrah harus benar-benar kuat. Sebab mereka tidak seperti jamaah haji resmi yang kemana-mana selalu menggunakan bus angkutan."Dari Arafah kami jalan kaki untuk mabit di Musdhalifah. Setelah itu kami kembali berjalan kaki ke Mina untuk melempar jumrah," kata Ajis.Tidak hanya itu, mereka juga bisa saja terlantar di Arab Saudi, khususnya menjelang kepulangan. Para sponsor yang mengorganisir mereka sering lepas tangan atau tidak mau tahu.Seperti yang dialami Ajis dan kawan-kawan saat ini. Mereka hanya bisa menunggu waktu aparat imigrasi Arab Saudi menangkap mereka untuk selanjutnya di deportasi ke Indonesia. Tidak jelas kapan, entah sehari, seminggu, atau sebulan lagi. Padahal makin lama kondisi jamaah visa umrah ini semakin memprihatinkan, terutama mereka yang sudah lanjut usia."Kemarin ada juga jamaah yang meninggal karena melahirkan. Kita tidak bisa membawanya ke dokter, karena kita ini ilegal. Mereka yang sudah tua juga mulai sakit-sakitan karena udara dingin," tutur Ajis.Namun demikian, beberapa di antara mereka bersikap biasa saja. Tidak bedanya orang yang menunggu jemputan untuk pulang setelah berwisata. Mereka mengapit kardus berisi aneka barang oleh-oleh dan jerikan berisi air zam-zam. Suara tawa juga sesekali terdengar dari mereka saat membicarakan hal-hal yang dianggap lucu.
(djo/zal)










































