Kisah Tenggelamnya KM Senopati
Ali Terselamatkan Perahu Karet
Sabtu, 13 Jan 2007 16:29 WIB
Jakarta - Semua penumpang KM Senopati Nusantara panik menjelang kapal tenggelam. Ali Usman (25), salah seorang penumpang dari Bantul, DI Yogyakarta, melompat dari atas kapal dan mencebur ke laut tanpa pelampung. Beruntung, ada kapal karet. "Detik-detik menjelang kapal tenggelam, saya melompat ke laut tanpa memakai pelampung," kata Ali Usman saat mengisahkan tenggelamnya KM Senopati kepada detikcom di Kampus Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Jl. Merican, Gejayan, Yogyakarta, Sabtu (13/1/2007)Ali masih beruntung setelah dirinya mencebur ke laut. Bersama 17 penumpang lainnya, dia menemukan perahu karet yang mengambang. "Saya menggunakan perahu itu hingga nelayan menemukan kami," kata dia. Perahu karet yang dinaiki 18 orang itu mengapung menuju perairan Rembang. Beruntung, sekitar pukul 06.00 WIB pada 31 Desember 2006, nelayan Rembang menemukan mereka. Oleh nelayan, para penumpang KM Senopati ini dibawa ke pelabuhan Rembang. "Pukul 08.00 WIB, kami tiba di daratan," ujar dia. Menurut Ali Usman, KM Senopati berangkat dari Pelabuhan Kumai, Kalimantan Tengah pada pukul 20.30 WIB tanggal 28 Desember 2006. Saat Ali Masuk ke dalam kapal, penumpang sudah tampak berdesak-desakan. Banyak penumpang yang tidak mendapat tempat duduk. Dia sempat melihat ada 1 buldozer, empat truk tronton, beberapa truk biasa, dan beberapa mobil pribadi dimasukkan ke dalam kapal. Bersama 40-50 penumpang lainnya, Ali memilih duduk dan tidur di dalam musala kapal. "29 Desember, tiba-tiba pintu musala jebol. Entah kenapa. Nah, sekitar pukul 21.00 WIB, kapal mulai berguncang. Penumpang sampai mual-mual," kata Ali. Hari berganti, KM Senopati masih berlabuh dengan normal. Pada 30 Desember 2006 malam, musibah itu terjadi. Ketika itu, Ali sempat melihat jam di telepon genggamnya. Jam digital itu menunjukkan pukul 22.45 WIB. "Kapal mulai berguncang lagi dan kapal miring ke sebelah kanan. Saat kapal miring kanan, penumpang berteriak dan sebagian lari ke arah kiri untuk mengimbangi kapal. Saat kapal miring, posisi air sudah sejajar dengan bagian paling ujung kapal," terang Ali. Satu menit setelah kapal miring, mesin kapal juga mati, namun lampu-lampu di kapal masih belum padam. Lima menit kemudian, lampu kapal benar-benar padam, suasana menjadi gelap gulita. "Penumpang panik dan melompat ke dalam laut tanpa mengenakan pelampung," kata dia.
(asy/fay)











































