Penembakan Buronan & Polisi Picu Konflik Baru di Poso
Jumat, 12 Jan 2007 13:24 WIB
Jakarta - Kontras menyesalkan penembakan 1 buronan dan 1 pelempar bom, serta 1 polisi yang dikeroyok hingga tewas di Poso. Langkah Detasemen Khusus 88 Antiteror dikhawatirkan akan memicu konflik baru di Poso."Kami khawatir ini menjadi konflik baru antara polisi dan masyarakat. Masyarakat tidak percaya lagi kepada polisi yang seharusnya menjadi polisi komunitas di Poso. Kemarahan masyarakat yang menimbulkan tewasnya polisi menunjukkan tidak adanya kepercayaan yang kuat terhadap polisi di Poso," kata Koordinator Badan Pengurus Kontras Usman Hamid.Hal ini disampaikan Usman dalam jumpa pers di Kantor Kontras, Jalan Borobudur, Jakarta Pusat, Jumat (12/1/2007).Usman juga mempertanyakan Polri tidak menangkap dalang penyuplai senjata, karena senjata yang ditemukan pada umumnya digunakan oleh TNI-Polri."Ada kejanggalan atas penembakan dan penangkapan tersebut," ujarnya.Kepala Divisi Pembelaan Hukum, Konflik dan Perdamaian Kontras Abusaid Pelu mengatakan, kepolisian seharusnya melakukan langkah protektif untuk mengamankan pihak-pihak yang menjadi saksi kunci terhadap peristiwa teror di Poso, walaupun mereka masuk DPO."Yang disayangkan adalah justru masyarakat menjadi korban penembakan," kata Abusaid.Aktivis Kontras Syamsul Alam Agus juga mempertanyakan keberadaan barang bukti organik yang ditemukan polisi."Penemuan itu patut dipertanyakan, mengingat penemuan tidak dilakukan saat operasi atau penggeledahan," kata Syamsul.Wakadiv Humas Mabes Polri Brigjen Pol Anton Bachrul Alam pada Kamis 11 Januari mengatakan ada 9 buronan dan pelindung buronan Poso ditangkap. Dua di antaranya tewas didor. Sedangkan 1 polisi tewas dikeroyok massa yang marah atas penembakan 2 orang tersebut.
(aan/sss)











































