Nyamar Jadi Reserse, Pak Ogah Digaruk Satpol PP
Rabu, 10 Jan 2007 16:52 WIB
Jakarta - "86, 86..." Jayadi (30) asyik memainkan handy talkie (HT). Tak lupa tangan kanannya mengatur mobil yang memutar di putaran Kodamar, Jl Yos Sudarso, Sunter, Jakarta Utara. Setelah mobil melintas, uang pun dia pinta dari sopir mobil tersebut. Namun, pria asal Plered, Cirebon ini tidak sadar kalau aksinya itu dipantau sekitar 30 petugas satpol PP. Akhirnya tak lama kemudian sekitar pukul 10.00 WIB, Rabu (10/1/2007), Jayadi langsung diciduk. Sempat mencoba melarikan diri, tapi 5 petugas satpol PP dapat menarik bajunya, hingga Jayadi tak berkutik."Kita sempat ragu mau nangkap dia, karena kita pikir polisi bawa-bawa HT. Ya, tapi kok dia minta-minta duit kaya Pak Ogah," kata seorang petugas Satpol PP Suwandi di Pos Satpol PP. Jayadi kemudian digelandang menuju kantor Satpol PP. Sambil memohon-mohon, ayah 1 anak ini meminta dilepaskan. "Saya bawa HT buat mantau polisi, buat komunikasi bareng teman saya," cetus Jayadi.Dia lalu bercerita, HT itu dibelinya di Cawang, Jakarta Timur sekitar 3 minggu lalu ketika dia bersama temannya, Imam, mulai mengawali profesi Pak Ogah di lokasi itu. "Saya beli Rp 35 ribu," ucap Jayadi.Pria yang mengaku sehari-hari biasa menjadi tukang gali ini mengaku pekerjaan sebagai pak ogah hanya dijalaninya sebagai selingan, karena tidak setiap hari dia mendapat order menggali septictank, sumur dan gorong-gorong. "Saya biasanya sehari dapat kerja galian dibayarnya Rp 50 ribu, tiga hari kemudian nganggur. Ya jadi pak ogah buat makan aja," imbuh Jayadi.Pada awalnya dia memang mengaku ingin dilihat sebagai polisi dengan membawa-bawa HT, tapi yang menggelikan, ketika ditanya apakah dia tahu sebutan 86, 86, pria ini malah menjawab enteng. "Itu kan nomor mobil polisi. Jadi kalau teman saya bilang 86 itu artinya ada polisi," tutur Jayadi.Setelah diperiksa, petugas menemukan uang Rp 9 ribu dalam bentuk recehan di dompetnya dan sebuah HT didapatkan dari tangannya. Petugas Satpol PP tidak menahan lama pria yang biasa tidur di bawah jembatan layang di sekitar Sunter itu. Setelah didata, Jayadi akhirnya dikirim ke dinas sosial.
(ndr/asy)











































