Migrasi Frekuensi ELBA ke Digital Harus Diikuti Audit Semua Pesawat

Migrasi Frekuensi ELBA ke Digital Harus Diikuti Audit Semua Pesawat

- detikNews
Selasa, 09 Jan 2007 15:07 WIB
Jakarta - Frekuensi Emergency Locator Transmitter (ELT) atau Emergency Locator Beacon Aircraft (ELBA) yang digunakan oleh pesawat Indonesia adalah frekuensi analog 121,5 MHz. Sistem ini akan diganti dengan sistem digital 406 MHz agar lebih sensitif.Menhub Hatta Rajasa menyatakan, pemerintah dan maskapai penerbangan tidak mengalami kesulitan melakukan migrasi tersebut. "Nggak ada kendala," kata Menhub di gedung Dephub, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa (9/1/2007).Migrasi ini ditanggapi positif oleh pengamat telematika Roy Suryo. Migrasi ini juga perlu ditindaklanjuti dengan mengaudit semua pesawat terbang di negeri ini. "Ini penting terutama pesawat-pesawat berusia lebih 15 tahun yang rata-rata ELT/ELBA-nya masih bersistem analog," ujar Roy dalam SMS-nya pada detikcom.Kemudian, lanjut Roy, dua Local User Terminal (LUT) yang selama ini rusak harus segera diperbaiki karena membuat kita tergantung pada Singapura/Thailand."Mulai tahun 2009 ELT/ELBA analog tidak akan diterima oleh satelit Cospas-Sarsat. Akibatnya pesawat-pesawat yang masih menggunakan 121,5MHz tidak terpantau jika terjadi musibah," beber Roy.ELT/ELBA berfungsi memancarkan sinyal radio agar lokasinya bisa diketahui sistem deteksi yang ada. Kamus Wikipedia menyebutkan, metode ELBA telah diterapkan lebih dari tiga dekade dan diyakini keandalannya oleh negara-negara maju di dunia.Frekuensi yang dipilih untuk operasi ELT adalah 121,5 megahertz (MHz) untuk darurat penerbangan sipil, dan 243 MHz untuk penerbangan militer, yang masuk sebagai frekuensi UHF darurat penerbangan.Namun, sistem yang dimaksudkan murni untuk pewartaan keadaan darurat ini memperlihatkan keterbatasan: frekuensi sipil sesak dan dirancang pertama-tama untuk transmisi suara. Lalu, karena suar berdaya rendah, sinyalnya pun acap terlindas transmisi suara yang berdaya tinggi. Lebih jauh lagi, saat itu belum ada cara untuk mengenali dari arah mana datangnya sinyal tersebut (selain melalui cara homing dan -- yang lebih penting lagi -- ada stasiun yang cukup dekat dan siap mendengarkan sinyal tersebut.Keterbatasan ini berlangsung selama beberapa tahun, sehingga membuat manfaatnya kurang bisa dirasakan. Dari sini muncul ide untuk memanfaatkan sistem berbasis satelit. Akhirnya frekuensi suar darurat pun dialokasikan untuk sistem ini, yakni 406 MHz. Sistem bercakupan global ini mampu secara unik mengenali setiap suar. Pada generasi berikut, Inmarsat atau International Maritime Satellite mengoperasikan suar berfrekuensi 1,6 GHz. (nrl/umi)


Berita Terkait