Tingkat Hunian Hotel di Bali Belum Pulih

Tingkat Hunian Hotel di Bali Belum Pulih

- detikNews
Rabu, 03 Jan 2007 20:40 WIB
Denpasar - Upaya pemulihan pariwisata Bali pasca tragedi bom Bali II 1 Oktober 2005 sepertinya belum akan berhasil pada tahun 2007. Hingga kini, tingkat hunian hotel yang menjadi salah satu tolok ukur pulihnya pariwisata Bali belum mencapai angka sebelum bom Bali II. Hal ini disampaikan Ketua Pengusaha Hotel & Restoran Indonesia (PHRI) Bali Cokorda Artha Ardana Sukawati di kantornya, jalan Puputan Raya Renon, Denpasar, Rabu (3/01/2007). Menurut dia, peningkatan tingkat hunian hotel terganggu akibat menjamurnya ratusan vila liar hingga munculnya fenomena kos-kosan menjadi hotel. Pertumbuhan vila liar itu sekitar 35 persen dikuasai pengusaha asing. Faktor lainnya adalah pemerintah provinsi dan kabupaten masih sangat lemah dalam mengambil kebijakan dan langkah hukum terkait vila liar. "Ini akan membuat prospek pariwisata tahun 2007 makin suram," kata Sukawati.Tingkat hunian hotel saat ini hanya mencapai angka 28 persen dari 52 ribu kamar hotel yang tersebar di Bali. Dampaknya, pengusaha hotel dan restoran akan melakukan efisiensi dengan melakukan PHK (pemutusan hubungan kerja) kepada karyawan. Ketua Bali Tourism Board (BTB) Bagus Sudibya mengatakan komponen pariwisata Bali telah kehabisan energi untuk melakukan recovery di tahun 2006. Namun, ia mengaku optimis tahun 2007 memberikan harapan kebangkitan pariwisata menuju titik stabilisasi. Alasannya, tingkat kunjungan wisatawan mancanegara hingga penghujung tahun 2006 menyentuh angka 1,3 juta orang. Angka ini sedikit dibawah jumlah kunjungan wisatawan di tahun 2005 sebsar 1,4 juta orang. Kunjungan wisatawan didominasi Jepang 233.588 orang (20 persen), Taiwan 132.171 orang (11,62 persen), Australia 117.969 orang (10,37 persen).Sedangkan Kepala Dinas Pariwisata Bali Gde Nurjaya mengatakan untuk memulihkan pariwisata Bali dari keterpurukan akan membuat semboyan baru untuk sektor pariwisata. Semboyan ini diharapkan akan menjadi tandingan pariwisata negara-negara tetangga seperti Malaysia dan India. (gds/asy)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads