Kasus Katering di Armina Bentuk Kecelakaan Manajemen
Rabu, 03 Jan 2007 00:45 WIB
Makkah - Kasus kegagalan katering di Arafah-Mina adalah bentuk kecelakaan manajemen dalam proses pendistribusian makanan. Hal ini tidak akan terjadi jika jauh-jauh hari sudah dilakukan proses antisipasi.Hal tersebut disampaikan Kepala Kantor Urusan Haji DKI, Anshori, di kantor Media Center Haji (MCH) Makkah, seperti dilaporkan reporter detikcom di Makkah Djoko Tjiptono, Selasa (2/1/2006)."Hal seperti ini jangan sampai terjadi lagi karena mengganggu kekhusukan ibadah haji jamaah kita di Armina. Ini pe-er bagi pemerintah pusat untuk memberikan suatu kondisi antisipatif disertai kecerdasan teknis manajemen juga moral. Sehingga bangsa kita tidak terpuruk di Arab Saudi," kata Anshori.Menurut Anshori, proses sentralisasi pengelolaan katering yang dilakukan pada tahun ini sebenarnya memiliki sejumlah risiko. Salah satunya adalah rentang waktu dan rentang komunikasi antara pihak pelayanan dan yang dilayani menjadi lebih jauh. Dengan demikian proses sentralisasi bukan suatu jaminan semuanya akan lancar."Katering dilayani dalam satu perusahaan itu adalah sesuatu yang mustahil dilakukan karena banyak faktor-faktor yang mempengaruhinya seperti hambatan teknis, komunikasi, dan sebagainya. Itu sangat mempengaruhi pelayanan yang tepat pada waktunya. Hal ini juga memungkinkan tidak terjadinya kontrol yang jelas karena begitu besarnya," ujar Anshori.Karena itu, sambung Anshori, pihaknya sudah melakukan berbagai langkah antisipasi terhadap jamaah sebelum berangkat ke Armina. Para jamaah diimbau untuk membawa bekal makanan secukupnya. Hasilnya, meski tidak maksimal, cukup bisa menghindari para jamaah haji asal DKI Jakarta dari kondisi yang parah."Kita melakukan antisipasi sebelum berangkat ke Arafah agar siap dalam kondisi seburuk apa pun. Tapi ini pun tidak maksimal karena sifatnya imbauan. Meski demikian 90 persen kondisi jamaah kita dalam keadaan baik," tutur Anshori.
(djo/sss)











































