Isu Sabotase di Balik Kasus Katering Jamaah Haji Indonesia

Catatan Haji

Isu Sabotase di Balik Kasus Katering Jamaah Haji Indonesia

- detikNews
Selasa, 02 Jan 2007 10:20 WIB
Makkah - Tragedi gagalnya penyediaan katering bagi 186.00-an jamaah haji Indonesia di Arafah dan Mina (Armina) masih menyisakan sejumlah pertanyaan. Benarkah ada sabotase di balik peristiwa itu?Selama 25 tahun katering untuk jamaah haji Indonesia ditangani oleh muasasah (semacam asosiasi sejumlah perusahaan baik di bidang pemondokan maupun katering di Makkah). Indonesia sendiri ditangani oleh muasasah Asia Tenggara.Namun khusus musim haji 1427 Hijriah ini, urusan katering tidak lagi ditangani muasasah. Pemerintah Indonesia dalam hal ini Departemen Agama, mengalihkannya ke sebuah perusahaan katering yang bernama Ana For Development (sebelumnya ditulis ANA Enterprise and Services). Katering dengan nilai perkiraan mencapai Rp 190 miliar ini pun berpindah tangan.Seperti diketahui, komponen biaya konsumsi Armina untuk musim haji 1427 Hijriah ini sebesar 250 Riyal. Jumlah total jamaah haji Indonesia sekitar 205 ribu orang, yang terdiri dari 186 ribu orang jamaah haji reguler dan sisanya jamaah BPIH khusus (ONH plus). Untuk Armina, Panitia Penyelenggara Haji Indonesia (PPIH) hanya mengelola konsumsi untuk jamaah haji reguler.Saat kasus katering ini terjadi di Arafah, memang beredar berbagai informasi mengenai penyebab peristiwa itu. Antara lain karena letak dapur Ana For Development (ANF) yang berada di luar Arafah dan kontainer pengangkut katering ditahan polisi di gerbang Arafah karena tidak memiliki izin masuk. Informasi lain menyebutkan, keterlambatan pengiriman itu karena ANF kesulitan mendapatkan aluminium foil pembungkus makanan. Benda itu baru didapat sekitar pukul 23.00 Waktu Arab Saudi, itu pun hanya cukup untuk mengemas sebagian kecil saja.Padahal semestinya semua itu tidak perlu terjadi. Sebab pemerintah tentu tidak sembarangan menunjuk ANF sebagai pengelola tunggal katering bagi jamaah haji Indonesia. Pemilik perusahaan ini adalah putra Menteri Dalam Negeri Arab Saudi, yang juga menantu Raja Abdullah.Sejumlah sinyalemen pun bermunculan di balik kasus ini. Salah satunya soal kemungkinan adanya sabotase dari pihak-pihak tertentu. Penyebabnya tidak lain adalah masalah persaingan bisnis. "Bisnis yang sudah 25 tahun ditangani satu pihak kemudian berpindah ke pihak lain. Anda bisa dugalah kira-kira apa yang terjadi. Di sini yang namanya Amir (bangsawan) jumlahnya banyak sekali, mereka semua berbisnis dalam musim haji," kata seorang sumber di Arab Saudi.Menteri Agama Maftuh Basyuni mengatakan, dirinya berharap hal tersebut tidak terjadi. Meskipun, sambung Maftuh, masalah sabotase bisa saja ada di balik peristiwa ini."Mudah-mudahan itu (sabotase) tidak ada. Bahwa kemungkinan itu ada ya," ujar Maftuh kepada detikcom Minggu (31/12/2006). Ketua Tim Pemantau Haji tahun 1427 Hijriah, Hasrul Aswar, mengatakan sudah memperingatkan pemerintah jauh-jauh hari mengenai peralihan katering dari muasasah ke satu perusahaan. Menurutnya, hal ini tidak menutup kemungkinan terjadinya benturan-benturan kepentingan di lapangan. Namun demikian, kata Hasrul, terlalu dini untuk menduga telah terjadi sabotase dalam kasus kegagalan katering ini. Menurut dia, sebaiknya pemerintah melakukan evaluasi yang komprehensif terlebih dahulu terhadap kasus ini. Mereka yang terlibat dan terbukti bersalah, harus ditindak tegas."Jangan berbicara soal itu (sabotase). Kita tidak mau memberikan pernyataan yang menduga-duga. Itu sangat berbahaya, apa lagi ini menyangkut pihak-pihak tertentu di Arab Saudi," tukas Hasrul kepada detikcom di Wisma Haji Aziziah III, Makkah, Senin (1/1/2007).Anggota tim pemantau haji DPR lainnya, Marwah Daud mengaku, sampai detik ini tim pemantau DPR belum mengetahui alasan ANF yang gagal memasok katering bagi jamaah Indonesia. "Kami sama sekali tidak memiliki akses untuk bertemu pimpinan ANF. Beberapa cara yang kami lakukan selalu gagal," kata politisi dari Partai Golkar ini. (bdi/bdi)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait