Kronologis Tragedi Katering Jamah Haji Indonesia

Kronologis Tragedi Katering Jamah Haji Indonesia

- detikNews
Senin, 01 Jan 2007 19:03 WIB
Makkah - Kasus katering menutup semua kebaikan penyelenggaraan haji tahun 1427 Hijriah. Bagaimana kasus itu terjadi? Berikut kronologis kasus yang membuat banyak jamaah haji Indonesia sengsara di tanah suci.Kamis (28/12/2006), sekitar jam 10.00 Waktu Arab Saudi (WAS), jamaah haji Indonesia mulai diberangkatkan ke Arafah untuk melaksanakan wukuf pada keesokan harinya, yakni Jumat (29/12/2006) atau 9 Dzulhijah. Pada pukul 16.00 WAS, tim dari Misi Haji Indonesia yang mengontrol dapur ANA Enterprise and Services (perusahaan yang ditunjuk Departemen Agama untuk menangani katering jamaah haji) mendapat keterangan makanan sudah matang."Tapi ketika kita kemudian jam 18.00 WAS mengecek ulang dikatakan masakan memang sudah siap namun aluminium foilnya (kemasan) tidak ada," kata Kepala Satuan Operasi Arafah Mina, Sukiman Azmi, di tenda Misi Haji Indonesia Mina, Arab Saudi, Senin (1/1/2007). Namun tak lama berselang, ada sekitar 3 hingga 4 kontainer keluar dari dapur ANA. Petugas ANA mengatakan kontainer-kontainer tersebut berisi katering untuk jamaah haji Indonesia di Arafah. Mendapat informasi ini, petugas haji Indonesia langsung memburu kontainer-kontainer tersebut.Ternyata mobil-mobil besar tersebut tidak berhenti di kawasan tempat jamaah haji Indonesia tinggal di Arafah. Mereka terus bergerak ke areal lain. Penasaran, truk-truk tersebut terus diburu."Mereka hanya numpang lewat saja. Dan setelah dicek oleh anggota kita, ternyata yang diangkut baru boks saja, sama sekali belum ada isinya. Mereka beralasan masih mencari aluminium foil untuk membungkus makanan," kata Azmi.Hingga pukul 10.00 WAS, aluminium foil pembungkus makanan itu tidak juga datang. Hingga akhirnya pukul 23.00 WAS, proses pembungkusan makanan baru bisa dimulai dan baru selesai 2,5 jam kemudian. Itu pun baru hanya untuk 1 maktab yang bisa diberangkatkan ke Arafah.Sekitar pukul 03.00 WAS, Jumat (29/12/2006), makanan sampai ke Arafah. Saat itu jamaah sudah mulai kelaparan, sementara makanan datang jumlahnya sangat tidak sebanding dengan jumlah jamaah. Satu bungkus makanan dimakan 4 jamaah. "Pada malam itu, hanya sekitar 4 maktab yang kebagian makanan. Selebihnya tidak ada sama sekali. Ketika satu kontainer sampai di maktab 5, mereka tidak berani membukanya. Sebab jamaah sudah keluar semua untuk berebut makanan," ungkap Azmi.Kekacauan distribusi katering ini kemudian berlanjut saat jamaah haji Indonesia berada di Mina, Sabtu (30/12/2006). Pada hari pertama di Mina, urusan katering masih dipegang oleh ANA. Apa yang terjadi di Arafah kembali terulang di Mina. Diperkirakan 80 persen jamaah haji Indonesia tidak mendapatkan jatah makan, baik pagi, siang maupun malam.Pada malam harinya, suasana di Mina semakin kacau. Banyak jamaah yang melayangkan protes ke petugas. Menanggapi hal ini, Menteri Agama Maftuh Basyuni yang ditugaskan Presiden SBY terbang ke Makkah, melakukan pertemuan dengan pihak muasasah. Hasilnya, pihak muasasah menyanggupi membantu penyediaan katering untuk jamaah haji Indonesia."Jadi hari Sabtu jam 23.00 WAS, diputuskan oleh muasasah dan Menag bahwa masalah katering tidak lagi ditangani ANA, tapi digantikan muasasah," kata Azmi.Namun persoalan ternyata tidak langsung beres. Pihak maktab yang ditugaskan oleh Muasasah untuk memasak ternyata tidak sepenuhnya siap. Peralatan dan tenaga ada, namun bahan makanan yang dimasak tidak ada karena serah terima dilakukan secara mendadak."Kalau beras mungkin banyak, tapi untuk memasukan daging, buah dan sayur-mayur ke Mina butuh izin khusus. Ini menyebabkan sampai hari kedua di Mina, pembagian katering masih berjalan kurang baik, meski pihak muasasah sendiri sudah menyanggupi," tutur Azmi.Untuk memback up muasasah, Maftuh juga mengontrak perusahaan katering Al Munif. Perusahaan ini ditugaskan untuk menangani 23 maktab dari 75 maktab yang ada. Ke-23 maktab tersebut berada di dalam satu areal di Mina . Dan ternyata, distribusi untuk 23 maktab ini berjalan lancar. Sementara menurut data dari tim monitoring pendistribusian katering, hingga Minggu pukul 20.40 WAS, masih ada 12 maktab lagi yang belum mendapatkan jatah katering. Suasana di kantor Misi Haji Indonesia sendiri pada malam itu, masih diwarnai gelombang protes dari jamaah.Para jamaah yang datang protes dengan sikap emosional. Mereka menghujat para pejabat Departemen Agama yang dinilai tidak becus bekerja dan menyengsarakan jamaah. Beberapa di antaranya bahkan mengancam akan memporak-porandakan kantor misi haji Indonesia jika mereka tidak juga mendapatkan jatah makan."Saya dipecat sebagai PNS tidak apa-apa. Saya rela menjadi tumbal bagi jamaah saya yang sejak sampai di Mina ini tidak makan. Mau adukan ke Maftuh, silakan. Mau pegangi saya silakan. Jamaah saya setiap detik bertanya kepada saya, Pak kapan kami makan," kata Abdul Madjid Adnan, salah satu ketua kloter di maktab 19.Menurut Abdul Madjid, berulangkali dia menanyakan masalah katering kepada petugas, tapi selalu diminta bersabar. Namun setelah berjam-jam ditunggu, tidak ada kabar dari para petugas haji."Sampeyan (anda) enak ya, di sini saya lihat makanan berlimpah. Bungkus nasi berserakan. Petugas semua perutnya kenyang, sementara jamaah saya sudah 24 jam tidak makan," kata Madjid sambil menunjuk satu-satu petugas yang ada di Sekretarian Satgas Armina. Namun beruntung, tak lama kemudian Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi dan Kerajaan Oman, Salim Segaf Al Joefry tiba di lokasi tersebut. Salim mengajak Madjid berbincang-bincang. Pembawaan Salim yang tenang dan bersahabat akhirnya membuat Madjid kembali tenang. Salim pun kemudian meninjau maktab 19 bersama Madjid. (djo/ana)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads