Kisah Bocah Pengais Rezeki Banjir di Pekanbaru

Kisah Bocah Pengais Rezeki Banjir di Pekanbaru

- detikNews
Minggu, 31 Des 2006 17:15 WIB
Pekanbaru - Banjir di Kecamatan Meranti Pandak, Pekanbaru memang menyengsarakan mayarakat setempat. Tapi, bagi anak-anak, banjir merupakan anugerah tersendiri. Selama banjir, kantong mereka tebal menjelang tahun baru. Lho?Indra (12) bocah kelas 6 SD tidak terlihat murung walau halaman rumahnya tergenang air setinggi 1 meter. Sudah tiga hari anak kedua dari empat bersaudara itu menikmati rezeki dari banjir tersebut.Melihat ban dalam bekas milik ayahnya yang bekerja sebagai buruh bengkel mobil tidak terpakai, Indra mendapat ide untuk membuat rakit. Setelah diisi udara, dua ban digabungkan dengan sebuah papan dan diikat. Rakit inilah yang dia tawarkan kepada warga di kecamatan yang berada di bantaran Sungai Siak ini sebagai alat transportasi antar RT. warga pun lebih senang menyewa karena tarifnya yang lebih murah. Untuk sekali tarik dari rumah ke Jl Yos Sudarso yang berjarak 300 meter Indra menarik ongkos Rp 2.000/orang. Rakit milik Indra itu bisa ditumpangi maksimal 3 orang, berarti sekali jalan dia bisa dapat uang sebesar Rp 6.000. "Lumayan Bang. Sehari ini aku dapat duit Rp 50 ribu. Uang ini untuk nambah biaya dapur di rumah. Apa lagi bapak juga tidak bisa bekerja, karena bengkel mobilnya juga tergenang air," tutur Indra kepada detikcom, Minggu (31/12/2006) di Pekanbaru. Tak hanya Indra, anak-anak seusianya juga 'berbisnis' jasa yang sama. Anak-anak ini akan ramah menawari kepada masyarakat yang berada di pinggir Jl Yos Sudarso. Mereka menawarkan dengan santun. "Ayo bang, piknik liat-liat banjir. Pulang pergi ongkos rakitnya cuma Rp 5.000 saja," promosi mereka. Indra sendiri memiliki 3 rakit yang dia dapatkan dari orang tuanya. Dua rakit lainya, dia sewakan kepada teman-temannya. Satu hari, rakit ban bekas itu disewa teman-temanya seharga Rp 10 ribu. "Sewanya nggak mahal-mahal Bang. Karena mereka itu juga temanku sekolah. Lagian yang kena banir ini kita sama kita juga," celoteh Indra. Bocah yang mengaku raking 10 besar itu, sambil keliling dengan rakitnya menolak ketika akan diabadikan dalam foto. Dia menyarankan detikcom untuk memfoto warga lainnya saja. "Jangan difoto awak bang, awak nggak mau masuk Koran. Yang penting abang bayarnya banyak-banyak ya. Biar awak bisa beli terompet tahun baru Bang," tolak Indra dalam logat Riau sambil nyengir. (cha/bal)


Berita Terkait