Banjir di Kampar Riau, Perekonomian Warga Lumpuh
Sabtu, 30 Des 2006 13:22 WIB
Pekanbaru - Banjir di Kabupaten Kampar, Riau menggenangi 12 ribu rumah penduduk dalam tiga pekan ini. Aktivitas dan perekonomian warga setempat lumpuh total. Warga hanya bias berharap banjir segera berakhir.Mukhlis (45) di Desa Teratak Buluh Kecamatan Siak Hulu hanya dapat menatap dan mengelus dada melihat pengergajian kayunya yang terendam air setinggi 2 meter. Sudah memasuki pekan ketiga usahanya tidak dapat berjalan. Padahal biasanya saban hari dia mendapatkan order berbagai kebutuhan materil bangunan rumah.Misalnya saja, menerima order untuk kusen jendala rumah dan materil bangunan lainnya. Dalam sepekan bapak dari empat orang anak ini dapat mengantongi keuntungan Rp 2-3 juta."Sekarang ini, kita tidak dapat berusaha karena halaman penggergajian kayu kita terendam air. Disamping itu kayu-kayu yang akan kita olah pun menjadi basah. Kalau kayunya basah itu sangat sulit untuk kita gergaji. Lagian yang order barang juga tidak bersedia bila kusen-kusen kayunya basah," kata Muklis.Nasib yang sama juga dialami warga lainnya. Muhardi (50) bapak enam orang anak ini juga tidak dapat melakukan aktivitas diperladangan kebut karetnya. Perkebunan karet seluas 2 hektar yang menjadi handalan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya, kini sudah tergenang air setinggi dua meter."Bagaimana kita mau ke kebun, kalau banjir ini juga belum surut. Kami tidak dapat berbuat apa-apa dengan kondisi ini. Banjir sekarang ini lebih lama waktunya dibanding tahun sebelumnya," keluh Muhardi.Nasip apes juga menimpa para pekerja pengeruk pasir sungai di desa tersebut. Setiknya di desa itu lebih dari 100 KK yang menggantungkan hidupnya sebagai buruh pengeruk pasir. Dari mengeruk pasir di sungai Kampar untuk bahan bangunan rumah, setidaknya mereka dapat mengantongi uang Rp 50 ribu per harinya. Sekarang ini mereka malah mengalami kerugian yang cukup besar. Pasir yang sebelumnya mereka kumpulkan ditepi sungai, semuanya sudah tenggelam kena banjir. "Rumah tergenang air, kita pun tidak dapat bekerja lagi sejak banjir ini. Kami Cuma berharap banjir segera surut agar kami dapat berushaa kembali," kata Mamad (34) seorang pekerja pengeruk pasir sungai kepada detikcom.
(mar/mar)











































