Perbedaan Idul Adha Beralasan Tetapi Harus Ditoleransikan

Perbedaan Idul Adha Beralasan Tetapi Harus Ditoleransikan

- detikNews
Sabtu, 30 Des 2006 04:15 WIB
Jakarta - Perbedaan adalah suatu hal yang wajar dalam kehidupan. Begitu pula dengan adanya perbedaan waktu pelaksanaan Idul Adha 1427 H di Indonesia. Hal itu harus disikapi dengan penuh toleransi.Perbedaan antara Sabtu dan Minggu sama-sama memiliki alasan dari Al Quran dan Al Hadits namun dengan penafsiran yang berbeda," ujar pengurus PP Muhammadiyah Edy Kuscahyanto dalam rilis yang diterima detikcom, Jumat (29/12/2006).Masyarakat yang meyakini bahwa Idul Adha terkait dengan wukuf di Arafah, maka Idul Adha jatuh pada Sabtu 30 Desember 2006. Hal ini sesuai dengan keputusan Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia.Pandangan kedua memahami bahwa Idul Adha tidak terkait dengan wukuf tetapi terkait dengan ketepatan tanggal 10 Dzulhijjah menurut penetapan waktu (tawqit) di Indonesia. Menurut hisab dan rukyat, diyakini bahwa 10 Dzulhijjah di Indonesia jatuh pada Minggu 31 Desember 2006."Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah memilih pandangan kedua," imbuh Edy.Muhammadiyah meyakini Idul Adha tidak terkait peristiwa wukuf yang tahun ini berlangsung Jum'at 29 Desember 2006, yang menurut tawqit di Indonesia masih tanggal 8 Dzulhijjah.Muhammadiyah antara lain mengacu kepada hadits riwayat Ahmad dan Abu Daud bahwa Rasulullah SAW berpuasa pada tgl 9 Dzulhijjah, maka puasa sunat menjelang Idul Adha dilaksanakan hari Sabtu 30 Desember."Sekali lagi perbedaan ini tidak perlu dibesar-besarkan, dan agar umat Islam menjalankan ibadat sesuai keyakinan masing-masing, dan ijtihad masing-masing akan diganjari Allah SWT," tegas Edy.Selain itu, lanjut Edy, yang paling penting adalah mensyiarkan Idul Adha dengan takbir dan menyembelih hewan kurban untuk dibagikan kepada fakir miskin dan kaum dhuafa, khususnya yang sedang menghadapi musibah bencana alam. (nvt/nvt)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads