Baru 16,5 Persen Rumah Korban Gempa yang Dibangun
Kamis, 28 Des 2006 17:29 WIB
Yogyakarta - Sekitar 16,5 persen atau sekitar 9 ribu rumah dari total lebih dari 30 ribu rumah korban gempa bumi di wilayah DIY dan Jawa Tengah yang roboh yang sudah dibangun menggunakan bantuan dari pemerintah untuk tahap pertama. Diperkirakan masih ada sekitar 32,7 persen warga yang masih belum membangun rumahnya dan tinggl di tenda-tenda.Hal itu dikemukakan oleh Sekretaris Tim Teknis Nasional, Danang Parikesit, kepada wartawan di kantor Tim Teknis Nasional Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah Pasca Bencana Gempa Bumi Provinsi DIY dan Jateng di Sekip N 53, Bulaksumur, Yogyakarta, Kamis (28/12/2006)."Dari 16,5 persen itu, sudah ada warga yang membangun hingga ke atas. Namun adapula yang baru struktur dan dinding. Namun adapula yang hanya struktur saja," katanya.Menurut dia, dari 16,5 persen warga sudah membangun dari struktur, dinding hingga atap sudah terselesaikan. Sebanyak 31,21 persen baru membangun struktur dan dinding rumah saja. Selanjutnya sebanyak 9,38 persen baru struktur saja dan sebanyak 10,27 persen baru membangun fondasi rumah. "Sisanya 32,47 persen belum mulai dan sebagian besar masih ada yang tinggal di tenda-tenda," katanya.Dia mengatakan, pada tahun anggaran 2007 nanti, dana yang akan disalurkan untuk rekonstruksi rumah mencapai Rp 2,7 triliun. Namun dari bantuan yang diberikan pemerintah melalui DIPA APBN pada tahun 2006 untuk korban gempa yang belum terserap tidak akan hangus. Dana itu akan dipindahkan ke rekening masing-masing gubernur selaku ketua tim pelaksana setelah ada MoU dengan Menteri Pekerjaan Umum (PU)."Untuk DIY dana yang sudah dipinah ke rekening gubernur sebesar Rp 86,531 miliar dan Jawa Tengah sebesar Rp 564,644 miliar," katanya.Menurut Danang, hingga tanggal 20 Desember lalu, penyerapan dana rehabilitasi dan rekonstruksi rumah di DIY untuk bantuan dari DIPA APBN 2006 sebesar 93,40 persen. Sedang dari bantuan langsung masyarakat mencapai 96,95 persen. Sedang untuk Jawa tengah untuk DIPA APBN mencapai 42,60 persen dan bantuan langsung masyarakat 44,43 persen."Adanya perbedaan besarnya penyerapan dana ini terjadi karena proses pelaksanaan antara DIY dan Jateng berbeda. DIY menggunakan penunjukan. Sedang Jateng melalui proses tender yang sehingga banyak kehilangan waktu," kata Danang didampingi ketua Sutatwo Hadiwigeno.Dia mengatakan saat ini keamanan pasokan material bahan bangunan dari industri atau pabrik masih terkendali dan aman. Pasokan semen dan besi tulangan dari pabrik hingga distributor masih terkendali. Sementara itu harga di tingkat pengecer masih terus dilakukan pemantauan.Sedang bahan bangunan atau material non industri seperti batu bata, pasir, genting dan kayu mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Genteng diperkirakan naik antara 30-50 persen. Batu bata antara 30-60 persen.Selanjutnya upah tenaga kerja atau tukang naik sekitar 25-60 persen. Pasirmengalami kenaikan cukup besar antara 50-116 persen, kecuali di wilayah Kabupaten Kulonprogo. "Kayu naik antara 30-110 persen dan yang paling banyak mengalami kenaikan di Bantul," katanya.
(bgs/nrl)











































