Ketuban Pecah Saat Banjir, Tak Sangka Anak Lahir Selamat
Kamis, 28 Des 2006 16:01 WIB
Medan -
Lelah masih tergambar di wajah Amelia Ferdyna. Tetapi sinar kebahagiaan juga berbaur. Ketubannya pecah saat banjir. Perjuangan yang ditempuhnya cukup berat untuk melahirkan. Nama anaknya pun jadi unik.Amelia Ferdyna merupakan salah seorang korban yang selamat dalam musibah banjir di Aceh Tamiang, NAD. Dalam keadaan hamil besar, dia diungsikan ke Medan, Sumut dengan menggunakan helikopter dan melahirkan dua hari setelah banjir."Alhamdulillah anak saya lahir dengan selamat," ucap Amelia di Rumah Sakit Islam (RSI) Malahayati, Jalan Diponegoro Medan, Kamis (28/12/2006).Kondisi Amelia sudah susah ketika banjir menerjang Aceh Tamiang pada Jumat 22 Desember. Wanita berusia 24 tahun ini sudah mendekati masa melahirkan. Kondisinya mulai memburuk setelah ketuban pecah pada Sabtu 23 Desember.Dalam genangan air, sang suami, Kusnadi (26) mengantarkannya ke rumah seorang bidan yang masih berada di dekat rumah Amelia, di Desa Bukit Suling, Kecamatan Rantau.Sayangnya bidan tak mampu membantu karena turut menjadi korban banjir. Akhirnya bersama sang suami, Amelia dibawa ke Rumah Sakit (RS) Pertamina Rantau, sekitar dua kilometer dari rumahnya. Sesampainya di rumah sakit, ternyata persoalan belum selesai. Banjir menyebabkan listrik dan air mati."Pada waktu di rumah sakit itu, rasa sakitnya sudah tak tertahan. Ketuban sudah pecah. Perasaan saya pun gelisah dan sedih. Sebab bidan sebelumnya menyatakan kemungkinan anak saya sudah meninggal dunia di dalam kandungan," kenang Amelia.Dalam keadaan genting seperti itu, kemudian sempat direncanakan Amelia akan dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kuala Simpang, yang berada di Kuala Simpang, ibukota Aceh Tamiang, sekitar 12 kilometer dari RS Pertamina. Namun rencana pergi dengan menumpang speedboat itu tidak bisa dilakukan. Sebab banjir semakin tinggi.Keadaan genting Amelia berlangsung hingga Minggu 24 Desember. Semalaman dia harus menahan sakit. Beruntung helikopter bantuan dari Pertamina Peduli bisa mendarat di halaman rumah sakit pada Minggu siang. Helikopter yang membawa bantuan untuk para korban banjir tersebut, juga direncanakan untuk mengevakuasi korban yang membutuhkan.Amelia kemudian ditandu ke heli, dan selanjutnya diterbangkan ke Medan bersama Kusnadi. Turut serta ibunya, Nurmiati, dan Marina, suster RS Pertamina. Sesampainya di Bandara Polonia Medan, dia selanjutnya dirujuk ke RSI Malahayati.Menurut Syarifah, salah seorang paramedis RSI Malahayati, saat tiba di rumah sakit, kondisi Amelia shock. Terutama karena ada informasi bayinya tidak selamat. Namun setelah dilakukan pemeriksaan, informasi itu tidak benar, dan selanjutnya dilakukan operasi caesar.Rahmat Patra SikorskyAnaknya lahir dengan selamat dengan bantuan dr Letta pada Minggu 24 Desember pukul 13.45 WIB. Bayi lelaki mungil itu memiliki berat 3,2 kilogram dan panjang 50 sentimeter.Selamat dari banjir dan proses evakuasi yang membawanya sampai ke Medan menjadi kenangan bagi Amelia. Itu sebabnya dia ingin menamakan anaknya Rahmat Patra Sikorsky.Rahmat karena kelahiran itu meruakan anugerah dari Allah. Patra karena dibantu Pertamina dalam evakuasi. Sikorsky merupakan jenis helikopter yang membawanya sampai ke Bandara Polonia Medan."Mudahan-mudahan dia nanti bisa menjadi pilot, agar bisa juga menyelamatkan orang saat musibah terjadi," harap Amelia yang terlihat masih kagok menggendong anak pertamanya.
(rul/sss)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































