Tegas dan Lugas, Cara SBY Agar Tetap Populer
Rabu, 27 Des 2006 15:43 WIB
Jakarta - Presiden SBY memang tidak punya pilihan lain selain bersikap tegas dan lugas. Kalau tidak, popularitasnya akan melorot pada Pemilu 2009."Kalau tidak tegas, kewibawaan presiden terdegradasi. Popularitasnya dalam Pemilu 2009 akan turun," ujar Direktur Eksekutif Sugeng Sarjadi Syndicate, Sukardi Rinakit, usai diskusi di Mario's Place, Menteng Huis, Jl Cikini Raya, Jakarta, Rabu (27/12/2006).Untuk membuktikan ketegasan dan tindakan konkret, ada sejumlah tugas yang harus dilakukan SBY. Ukuran pertama dari ketegasan SBY adalah melakukan reshuffle."Buang orang partai yang warna-warni, ganti dengan yang profesional," kata Sukardi.Menurut Sukardi, tanpa reshuffle SBY akan kesulitan karena orang-orang partai tidak bisa bekerja di dalam kabinet. Tolok ukur kedua adalah bisa bekerja sama dengan Wapres Jusuf Kalla yang selama 2006 ini sering bersikap berbeda."Ketika presiden menandatangani MoU antikorupsi dengan Korea Selatan, wapres malah mengatakan hal yang berbeda soal KPK. Begitu pula soal UKP3R," tukasnya.Pada Selasa 26 Desember, SBY berjanji pada tahun ketiga pemerintahannya akan melakukan tindakan konkret, langsung dan menggunakan bahasa terang dalam mengelola masalah di negeri ini.
(fay/nrl)











































