2 Tahun Tsunami, Mahasiswa Aceh di Solo Gelar Atraksi Seni

2 Tahun Tsunami, Mahasiswa Aceh di Solo Gelar Atraksi Seni

- detikNews
Selasa, 26 Des 2006 23:25 WIB
Solo - Mengenang kekelaman nasib tidak harus dengan bermuram durja. Itulah yang dilakukan para mahasiswa asal Aceh di Solo. Peringatan dua tahun tsunami di daerahnya dilakukan dengan pergelaran seni tradisi Aceh, baca puisi dan pemutaran film. Acara berlangsung semarak Teater Arena Taman Budaya Surakarta (TBS), Selasa (26/12/2006) malam. Himpunan Mahasiswa Aceh (Himas) menggandeng sejumlah kalangan untuk acara tertajuk 'Thanks to The World' tersebut. Diantaranya TBS, Pasca Sarjana ISI Surakarta, Teater Jejak Surakarta, Bungong Society Yogyakarta, Mie Aceh Ka Na Rasa Sukoharjo, serta mahasiswa dan warga asal Aceh di Surakarta dan Yogyakarta. Acara pun digratiskan untuk ratusan penonton yang memadati gedung teater arena TBS, meskipun Solo diguyur hujan sejak sore hingga menjelang akhir pementasan. Acara diawali dengan pergelaran serune kale, alat musik khas Aceh yang sangat populer di daerah Pidie. Disambung dengan lagu-lagu daerah Aceh. Tarikan-tarikan vokal lagu-lagu khas Aceh yang melantun dan kadang terkesan meratap-ratap, menjadi pembuka persembahan tersebut. Selanjutnya acara bersambung dengan pembacaan puisi yang khusus dipersembahkan bagi penyair, teaterawan serta seluruh seniman Aceh berserta keluarganya yang ikut tewas bersama 150 ribu warga Aceh lainnya karena gempa yang disusul tsunami dahsyat pada 26 Desember 2004. Pagelaran selanjutnya adalah tari Ratoh Duek dan Seudati. Rampak gerak tarian Aceh yang visualistis, mampu mamecah kesunyian mengalun yang sebelumnya membalut suasana. Acara disambung penuturan kisah korban selamat dari tsunami. Untuk acara ini, panitia memang sengaja menghadirkan 15 korban selamat.Selanjutnya adalah pemutaran film pendek berjudul 'The Tsunami Song', mengisahkan dua pemuda Aceh yang berjuang mendokumentasi sisa-sisa kesenian rakyat Aceh enam bulan pasca tsunami, yang tercatat sebagai bencana alam terbesar di dunia pada abad ini. Untuk semakin membangun nostalgia mereka, panitia juga menyediakan rehat kopi Aceh dan kue tradisional Aceh timphan yang dibagikan secara cuma-cuma kepada seluruh mengunjung seusai acara. Koordinator acara, Alfira, mengatakan tragedi tsunami dua tahun ini merupakan ujian bagi masyarakat Aceh serta bukti masih adanya ketulusan warga dunia dalam membantu penderitaan sesama. Karenanya acara itu digelar sebagai bentuk ungkapan terima kasih mereka bagi segala kebaikan tersebut. (mbr/ndr)


Berita Terkait