Warga Sanur Tertawa-tawa Ikut Simulasi Tsunami
Selasa, 26 Des 2006 11:07 WIB
Bali - Bayangan kepanikan dan kehebohan seperti yang terjadi dalam simulasi tsunami di Padang, Sumatera Barat, ternyata tidak terjadi di Bali. Warga Pantai Sindhu, Sanur, tidak terlalu antusias. Simulasi tsunami di pantai itu jauh dari kepanikan dan kehebohan. Warga malah menanggapinya dengan tertawa-tawa geli. Ketika panitia meminta mereka lari, mereka tampak enggan dan tetap berjalan kaki santai. Respons mereka juga bermacam-macam, ada yang respek, ada yang pesimistis."Ah, ini sih tidak ada manfaatnya. Pokoknya nggak ada. Ngapain harus begini, kalau ada tsunami kan tinggal lari jauh-jauh saja," cetus Mangku Patal, pedagang di Pantai Sindhu, Sanur, kepada detikcom di sela simulasi, Selasa (26/12/2006).Meski banyak yang menanggapi simulasi dengan malas-malasan, Nengah Ane, pedagang lainnya, mengaku senang ikut simulasi yang diadakan Kementerian Ristek tersebut."Ya kalau ada tsunami kita sudah tahu langkah-langkah menyelamatkan dirinya," kata dia.Simulasi yang dimulai pukul 09.15 WIT itu sebagian besar diikuti oleh anak-anak.Skenarionya, terjadi gempa berkekuatan 8,3 SR di Pantai Selatan Bali. Akibat gempa tersebut terjadi tsunami setinggi 5 meter di beberapa pantai di Bali, yakni Pantai Benoa, Pantai Serangan, Pantai Sanur, Pantai Padang Galak, dan Pantai SindhuSaat gempa terjadi, di Pantai Sindhu sedang digelar acara dangdutan. Warga tampaknya terlalu asyik menikmati acara tersebut, sehingga lupa ketika gempa terjadi mereka harus lari. Mereka tampak asyik duduk-duduk menikmati musik dangdut.Panitia akhirnya berteriak-teriak mengingatkan mereka dan meminta mereka lari meninggalkan pantai menuju tempat evakuasi, Lapangan Kapten Made Pica yang lokasinya 9 meter di atas permukaan laut. Dengan malas-malasan, warga akhirnya beranjak dari lokasi tersebut. Sambil tidak berlari seperti yang diinginkan panitia, tapi berjalan santai sambil tertawa dan bercanda.Panitia yang gemas sampai berteriak-teriak meminta mereka lari kencang. "Ayo dong, lari! Lari!" teriak seorang panitia.Sekitar 45 menit, datanglah petugas tentara, polisi dan Satlak Denpasar melakukan evakuasi korban tsunami di dekat pantai. Mereka mengangkut para korban menuju tempat evakuasi sementara, yakni Hotel Sindhu.Di lokasi evakuasi petugas memilah mana yang luka berat, ringan dan meninggal. Setiap korban diberi tanda, kuning untuk luka ringan dan luka diberi tanda pita merah. Mereka mendapat prioritas utama masuk ke ambulans menuju RS Sanglah, RS Surya Husada, RS Prima dan lain-lain.
(umi/nrl)











































