Terompet Tarno Tak Senyaring Tahun Lalu

Terompet Tarno Tak Senyaring Tahun Lalu

- detikNews
Senin, 25 Des 2006 18:38 WIB
Jakarta - Tahun baru memang identik dengan terompet. Bukan tahun baru namanya kalau tidak ada terompet. Terompet dan tahun baru tidak bisa dipisahkan.Kemeriahan tahun baru itu juga tidak lepas dari keberadaan pedagang terompet yang menjajakan dagangannya. Para pedagang terompet biasanya mulai menampakkan diri mereka 6 hari menjelang pergantian tahun. Seperti Tarno (25), salah seorang pedagang terompet musiman. Sehari-harinya, Tarno sebenarnya adalah seorang penjahit di kawasan Pulogadung. Tapi setiap menjelang tahun baru, pria yang mengaku belum menikah ini memiliki profesi tambahan sebagai seorang penjaja terompet. Sudah lima tahun Tarno menjalani profesi musimannya ini. Rute yang biasa dilaluinya adalah Kelapa Gading, Rawamangun hingga Pulogadung. Komplek perumahan dan pasar adalah daerah incarannya.Untuk memperoleh terompet, Tarno bersama 30 orang teman sesama pedagang terompet menjadi anak buah Gendu, seorang bos terompet di kawasan Jakarta Timur.Dari Gendu inilah mereka mendapat modal untuk membuat aneka terompet beserta bambu pikulnya. Ada enam jenis terompet yang dijajakan Tarno, dari yang konvensional hingga yang terbaru berbentuk ikan terbang seperti ikon salah satu TV swasta.Untuk berjualan selama 1 minggu hingga menjelang pergantian tahun, Tarno diberi modal oleh Gendu sebesar Rp 100.000. Dari modal sebesar itu, dia dapat membuat 100 buah terompet dengan berbagai jenis. Rinciannya, Rp 60.000 untuk membeli kertas mengkilap dan Rp 40.000 untuk kertas kartonnya."Nanti tiap habis jualan dihitung, ambil berapa lakunya berapa," kata Tarno yang ditemui detikcom di tempat jualannya di Pasar Rawamangun, Jakarta Timur, Senin (25/12/2006).Harga jual terompetnya bervariasi, mulai dari Rp 5.000 hingga Rp 15.000. Jika setiap terompetnya rata-rata dihitung Rp 10.000, seharusnya Tarno mendapat omzet kotor sebesar Rp 1.000.000. Itu pun jika habis terjual. Tapi ternyata tidak demikian. Lima tahun lalu saat pertama kali berdagang alat tiup ini, dengan harga hanya Rp 1.000, Tarno mengaku dapat meraup untung bersih hingga Rp 500.000. Tapi sejak 2 tahun belakangan, bukannya untung yang didapat malah buntung."Tahun kemarin mah Rp 500.000 itu masih kotor, dipotong sana sini paling cuma dapat Rp 200.000," ujarnya sambil tertawa getir.Sebenarnya dia berharap ada perbaikan tahun ini. Namun rata-rata keuntungan yang diperolehnya setiap hari hanya sekitar Rp 20.000 - Rp 30.000.Dengan harga kebutuhan pokok saat ini seperti beras yang terus naik, bunyi terompet Tarno kini tak lagi nyaring. Treeettttttt............. (/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads