1 Jamaah Haji Indonesia Meninggal Diduga Kena Meningitis

Info Haji

1 Jamaah Haji Indonesia Meninggal Diduga Kena Meningitis

- detikNews
Senin, 25 Des 2006 11:36 WIB
Makkah - Hingga Minggu (24/12/2006), jumlah jamaah haji Indonesia yang meninggal di Makkah, Arab Saudi, mencapai 65 orang. Salah satunya terindikasi terduga suspect meningitis.Hal tersebut diungkapkan Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan Daerah Kerja (Daker) Makkah, dr Zainuswir Zainoen SpJP di Makkah sebagaimana dilaporkan reporter detikcom di Makkah, Djoko Tjiptono, Senin (25/12/2006).Jamaah haji yang didiagnosis suspect meningitis tersebut adalah Dar dari kloter 23 embarkasi Jakarta. Almarhum sempat dibawa ke Rumah Sakit King Abdul Aziz Zahir, namun pada tanggal 23 Desember nyawanya tidak tertolong."Memang belum kita pastikan bahwa ia menderita meningitis. Jadi penderita itu kita diagnosa karena pada awal kedatangan ke Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) ia panas beberapa hari, tidak nafsu makan, kesadarannya agak menurun. Pada pemeriksaan fisik kita jumpai ada kaku kuduk dan panas badannya yang mencapai 40 derajat," kata Zainuswir di Makkah, Senin (25/12/2006).Menurut Zainuswir, pasien selanjutnya dirujuk ke RS Zahir untuk mendapatkan diagnosa yang lebih pasti. Hal ini penting untuk menentukan tindakan apa yang harus diambil selanjutnya. Bila ternyata positif meningitis, perlu segera dilakukan tindakan prophilaksis (pencegahan) terhadap jamaah di sekitarnya dan petugas dari BPHI.Namun sambil menunggu hasil pemeriksaan terhadap pasien tersebut, BPHI Makkah telah mengambil inisiatif untuk melakukan propilaksis secara dini. Sebab untuk mengetahui hasil pemeriksaan itu sendiri butuh waktu yang lumayan lama.Para petugas BPIH dan orang-orang yang pernah kontak dengan pasien tersebut diberi obat ciprofloxasin 500 mg. Tindakan yang sama juga diberikan kepada para jamaah yang satu pemondokan, baik satu tingkat di bawah maupun satu tingkat di atas. Mereka yang telah diberikan obat ini boleh tetap beraktivitas seperti biasa."Ini untuk mencegah timbulnya penyakit meningitis," ungkap Zainuswir.Ada berbagai efek samping yang ditimbulkan penyakit meningitis. Jika sudah parah bisa menyebabkan hydrocefalus atau pembengkakan kepala akibat bendungan cairan di kepala. Bisa juga menyebabkan kebutaan dan tuli di samping menyebabkan kelumpuhan. Penyakit ini memiliki gejala-gejala demam sampai satu minggu, nafsu makan menurun, terkadang disertai rasa mual dan muntah. Selanjutnya ada bercak merah di kulit atau pendarahan di bawah kulit. Penyakit meningitis ini penularan melalui droplet infection atau saluran pernafasan. Seseorang akan tertular jika menghisap udara dari penderita yang bersin atau batuk sembarangan. Bakteri ini kemudian berkembang biak di tenggorokan. "Karena itu kita lakukan pencegahan dengan prophylaksis terlebih dahulu. Setelah melakukan phropylaksis dengan kloter dan teman yang dekat penderita maupun petugas yang bertugas, kemudian kita melaporkan ke Subdit Haji di debarkasi," tutur Zainuswir.Tindakan pencegahan lainnya juga akan dilakukan di debarkasi Tanah Air. Petugas kesehatan akan melakukan tindakan swept tenggorokan untuk mengecek keberadaan kuman atau bakteri meningitis. "Sebab yang kita takutkan jamaah kita mereka menjadi carrier atau pembawa penyakit di Tanah Air. Dengan langkah tersebut kita bisa melakukan pencegahan lebih awal. Kalau hasilnya positif meningitis, kita sudah melakukan apa-apa yang harus dilakukan. Kalau negatif tak menjadi masalah dengan pemakaian obat tersebut. Lebih baik mencegah dari pada mengobati," kata Zainuswir. (djo/nrl)


Berita Terkait