Ketua Panwaslih Aceh Tengah Raib

Diduga Terkait Hasil Pilkada

Ketua Panwaslih Aceh Tengah Raib

- detikNews
Jumat, 22 Des 2006 16:50 WIB
Jakarta - Ketua Panitia Pengawas Pemilihan (Panwaslih) Aceh Tengah, Jufrianto (38) hilang sejak Rabu 20 Desember 2006 ketika akan pergi ke kantor DPRD Aceh Tengah. Hilangnya Jufrianto diduga terkait hasil pilkada bupati/wakil bupati Aceh Tengah."Kita sedang berkoordinasi dengan pihak kepolisian dan keluarga untuk terus melakukan pencarian. Sementara ini, kita belum bisa menyimpulkan apakah hilangnya ketua panwas Aceh Tengah itu karena terkait hasil pilkada," terang Ketua Divisi Jaringan Informasi dan Komunikasi Y Buchari pada detikcom, Jumat (22/12/2006).Sejauh ini, katanya, belum ada bukti-bukti kuat yang mengarah ke mana raibnya Jufrianto. Informasi yang diketahui, hilangnya Jufrianto usai sopir mobil operasional Panwaslih Aceh Tengah menurunkan Jufrianto di halaman kantor DPRD Aceh Tengah. Ketika itu, Jufrianto hendak menghadiri acara dengar pendapat dengan Komisi A DPRD Aceh Tengah.Sepekan terakhir ini, keluarga Jufrianto disebut-sebut diteror oleh sekelompok orang. Bahkan, istri dan anak-anaknya sudah diungsikan ke kampung kakeknya di kawasan Blang Gale, Kecamatan Bebesan, Aceh Tengah.Minta DiulangSementara itu, hasil pilkada bupati/wakil bupati Aceh Tengah memang berbuntut kisruh. Tujuh dari delapan calon bupati/wakil bupati meminta agar pilkada bupati/wakil bupati diulang. Sebab mereka menilai, banyak sekali kecurangan dan pelanggaran yang dilakukan salah satu calon.Puncak permintaan pilkada diulang ini terjadi pada Rabu pekan lalu, ketika ribuan orang melakukan aksi demo ke kantor DPRD Aceh Tengah dan ke kantor Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh Tengah. Bahkan, kantor KIP dan kantor Panwaslih Aceh Tengah diancam akan dibakar jika pilkada ulang tidak digelar.Dari 8 pasangan calon bupati/wakil bupati Aceh Tengah, pasangan Nasruddin-Jauhar Ali menempati posisi paling atas. Tapi, tujuh pasangan lain merasa pasangan ini banyak melakukan kecurangan. Mereka menilai, kemenagan pasangan tersebut karena sejumlah permainan di lingkungan birokrasi pemerintahan Aceh Tengah. Mereka menuduh penyelenggara pilkada tidak netral. (ray/sss)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads