Try Soetrisno cs Disebut Post Power Syndrom
Rabu, 20 Des 2006 13:32 WIB
Jakarta - Gerakan yang dilakukan Try Soetrisno cs mendapat kecaman sejumlah pihak. Mereka menilai gerakan mantan wakil presiden era Soeharto ini sebagai gerakan kelompok yang mengalami post power syndrom (sindrom setelah berkuasa). Gerakan ini juga dituding gerakan para 'mantan'.Kecaman ini disampaikan oleh Aliansi Kedaulatan Rakyat (Akur). Aliansi ini terdiri dari The Indonesia Development Monitoring, Serikat Pengacara Rakyat, Sigma Demokrat, Gerakan Mahasiswa Kemerdekaan, FSP-BUMN Bersatu, dan Forum Rakyat Anti Korupsi.Mereka menyampaikan hal ini dalam jumpa pers di Hotel Sofyan, Jalan Cikini Raya Nomor 79, Jakarta Pusat, Rabu (20/12/2006)."Gerakan ini sudah kehilangan moralitas politiknya. Sangat disayangkan karena mantan pejabat tersebut pernah berkuasa di pemerintahan sebelumnya, yang dalam pandangan kami tidak lebih baik dari SBY-JK," ujar juru bicara Akur, Haris Rusli Muti.Haris berpendapat saat ini tidak ada figur yang lebih baik dan lebih bersih dibanding SBY-JK. Haris juga mengatakan gerakan 'mencabut mandat' yang dilakukan Try Soetrisno telah menodai upaya kerja keras gerakan mahasiswa dan rakyat dalam memperjuangkan demokrasi.Selasa (19/12/2006), Try Soetrisno bersama sejumlah tokoh seperti Hariman Siregar, Fadly Zon, Muslim Abdurrahman, Cholil Badawi menyambangi Gedung DPR, Senayan, Jakarta. Mereka menamai gerakan ini sebagai Gerakan Kebangkitan Indonesa Raya (GKIR). Akbar Tandjung, Adnan Buyung Nasution, KH Ali Yafie juga berada di dalam GKIR.Mereka menyatakan terjadi persoalan kepemimpinan di pemerintahan. Keadaan bangsa sejak dipimpin SBY-JK, menurut kelompok ini, semakin terpuruk.
(fjr/nrl)











































