Kanada Bantu Rekonstruksi Korban Gempa Yogya
Rabu, 20 Des 2006 13:18 WIB
Yogyakarta - Pemerintah Kanada) membantu rekonstruksi rumah warga korban gempa di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Sebanyak 7,4 juta dolar Kanada atau senilai Rp 58,3 miliar disalurkan melalui Java Reconstruction Fund (JRF) untuk membangun kembali rumah yang rusak akibat gempa 27 Mei.Hal itu diungkapkan Duta Besar Kanada Y.M. John Holmes saat meninjau langsung pembangunan rumah korban gempa di Dusun Ngablak Rt 2 Desa Sitimulyo Kecamatan Piyungan Bantul, Rabu (20/12/2006)."Melalui Java Reconstruction Fund, kami ingin melihat langsung kemajuan rekonstruksi perumahan dan ada banyak rumah yang akan dibantu rekonstruksinya," kata dia.Selain bantuan yang diberikan untuk rekonstruksi, kata dia, Kanada saat tanggap darurat telah memberikan bantuan sebesar 3,5 juta dolar Kanada atau Rp 27,6 miliar untuk korban gempa di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Saat ini bantuan terus diberikan baik melalui lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LGM) setempat maupun lembaga multi donor seperti JRF. "Kami juga memberikan bantuan melalui institusi pendidikan, yakni perguruan tinggi Islam baik di jakarta, Aceh dan Yogyakarta sebesar Rp 102,3 miliar untuk mendukung peningkatan tenaga pengajar dan pengembangan masyarakat," katanya.Saat meninjau di salah satu rumah warga, Holmes sempat berdialog dengan pemilik rumah Achmad Jauhari (35) di Dusun Ngablak. Rumah Achmad saat terjadi gempa rata dengan tanah itu telah dibangun kembali melalui dana bantuan Kanada. Rumah-rumah warga yang dibantu melalui JRF sebagian besar saat dibangun lagi memerlukan waktu 3 bulan dengan ukuran sekitar 36 meter persegi. Bahan bangunan menggunakan batu-bata, semen dan genting pres.Holmes tidak segan-segan bertanya langsung kepada Achmad maupun tim yang mendampingi mengenai bahan/material yang digunakan untuk membangun rumah. Dia menanyakan ukuran besi yang digunakan untuk otot pondasi dan kolom serta kekuatan bangunan.Sementara itu Achmad yang menjadi guru ngaji dan ahli pijat itu mengaku senang sudah dapat menempati lagi rumahnya, meski belum ada daun pintu dan jendela. Akibatnya saat hujan tiba, air sempat masuk ke dalam rumah. Untuk menghindari air masuk saat itu dipasang penutup sementara dari gedhek (dinding bambu). Sedangkan lantai rumah belum ada dan masih ditutup dengan plester semen."Rencananya rumah bagian depan ini akan kami jadikan tempat usaha menjahit karena istri saya bisa menjahit, hanya saja belum ada modal untuk beli mesin jahit," kata dia berharap agar ada donatur lain yang bersedia membantunya.Mendengar permintaan tersebut, Holmes tampak manggut-manggut setelah mendengar penjelasan dari pendampingnya. Dia kemudian mengajak Achmad beserta istri dan anaknya yang masih berumur 2 tahun itu berfoto di depan rumah yang masih ada beberapa material berserakan.
(bgs/nrl)











































