Kisah Mereka yang Rela Dipoligami

Kisah Mereka yang Rela Dipoligami

- detikNews
Selasa, 19 Des 2006 08:58 WIB
Jakarta - Perempuan itu lajang 32 tahun, berwajah ayu dan berkulit langsat. Aktivitasnya dalam organisasi sejak mahasiswa, membawanya berada di jajaran atas pengurus salah satu partai berbasis massa muslim di wilayah DKI Jakarta. Ditemui detikcom selepas salat maghrib di Masjid Agung Al Azhar Jakarta, Senin (18/12/2006), ia berbicara tentang perubahan pandangannya tentang poligami. Sebut saja namanya Sarah. "Ini adalah pengalaman saya sendiri," Sarah pun menunjukkan selembar foto lelaki berjas yang diselipkan di dompetnya. Ia mengaku tengah bersiap untuk menjadi istri kedua lelaki di foto. Sosok itu tak lain adalah kolega di partai yang sama, yang disebut-sebut sebagai salah seorang bakal calon wakil kepala daerah di pinggir Jakarta. Apa boleh buat, menjadi fungsionaris muda di tengah partai tersebut membuatnya lebih banyak bergaul dengan kalangan politisi senior yang umumnya lelaki sudah berkeluarga dan mapan. Dan umumnya menyepakati poligami."Di partai kami, poligami bukan sesuatu yang aneh atau salah. Cukup banyaklah di partai kami yang istrinya lebih dari satu," ujarnya sambil wanti-wanti untuk tidak menyebut nama partainya. Maka ketika saat ini ia sendiri yang segera berhadapan dengan poligami, ia tak merasa dipusingkan."Kalau bicara soal adil, saya tahu porsi adil tidak akan sama. Tapi saya siap menjadi istri kedua karena cinta. Bagi saya itu anugerah," ucapnya yakin."Saya sudah merasakannya. Makanya saya bisa berkata seperti ini. Saya cinta, saya yakin. Dan itu (poligami --red) lebih baik daripada berzina," sambungnya lagi.Ia pun membandingkan dengan kasus video seks salah satu anggota DPR, "Daripada selingkuh seperti itu...". Perempuan berjilbab ini bahkan siap menjadi madu walau misalnya kelak aturan hukum positif dengan tegas melarang seorang pejabat publik berpoligami. Agama dan Hidup Layak "Kenapa izin Allah harus berada di bawah izin pengadilan?" pertanyaan ini diucapkan lantang oleh seorang perempuan di tengah peserta diskusi tentang poligami di komplek Masjid Agung Al Azhar pada hari yang sama. Perempuan berjilbab itu menanggapi paparan pejabat Departemen Agama RI yang menjadi salah satu pembicara. Perempuan itu, adalah satu dari mayoritas peserta diskusi yang menyepakati poligami. Banyaknya peserta pro poligami yang aktif bertanya atau berkomentar, bahkan membuat moderator diskusi kebingungan 'mencari' peserta yang anti-poligami. Di samping detikcom, seorang ibu yang membawa serta anak balitanya menimpali, "Walaupun perasaan mengatakan 'tidak', tapi ya mau bagaimana lagi. Perasaan harus mengalah dari syariat. Perasaan itu diatur oleh hukum," ucap ibu itu. Kalimat ini senada dengan yang diungkapkan seorang penggiat organisasi yang sering terlibat dalam kepanitiaan acara-acara Aa Gym di Jakarta. "Saya tidak mungkin menentang poligami. Itu adalah hukum Allah," tegas Herny Diah Pitaloka, salah satu aktivis Santri Khidmat Daarut Tauhiid."Tapi sejujurnya saat ini saya masih belum siap. Saya belum punya ilmu untuk paham lebih dalam," timpal dia.Baginya, kalaupun ia harus berhadapan dengan kenyataan dipoligami, dia menganggapnya sebagai garis takdir. Lain alasan agama, ada pula pertimbangan kelayakan hidup. Ini dinyatakan ibu satu anak yang tak ingin disebut namanya itu. Pada mulanya ia memang menyebut alasan ibadah sebagai dasar kerelaan berpoligami. Tapi kemudian ia berkata, "Kalau cerai malah jadi menderita, ya lebih baik saya dipoligami," imbuhnya.Sebenarnya ia tidak setuju dengan poligami, karena cenderung mengorbankan perempuan. "Tapi rugi dong kalau saya dicerai, lantas anak-anak saya bagaimana? Biaya hidup saya bagaimana?" ujarnya.Bagaimana dengan Anda? (fjr/fjr)


Berita Terkait