Puji Indonesia, Anwar Ibrahim Cerca Demokrasi di Negara Barat

Puji Indonesia, Anwar Ibrahim Cerca Demokrasi di Negara Barat

- detikNews
Selasa, 19 Des 2006 02:49 WIB
Jakarta - Kehidupan demokrasi di Indonesia mendapatkan perhatian yang besar dari mantan Wakil Perdana Menteri malaysia, Datuk Seri Anwar Ibrahim. Berulangkali dalam pidatonya Anwar memuji proses demokrasi yang berlangsung di Indonesia. Bahkan Anwar mempromosikannya kepada dunia. "Saya bilang pada Al Gore (Wapres AS era Bill Clinton-red), pemilihan umum di Indonesia itu tidak diragukan lagi lebih fair dari pada pemilu di Florida tahun 2000," kata mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Anwar Ibrahim, dalam kuliah umumnya yang berjudul 'International Issues on Islam and Muslim Chalenges and Opportrunities' di Universitas Al-Azhar Indonesia, Jl Sisingamaraja, Kebayoran Baru, Jakarta, Senin (18/12/2006). Anwar mengakui jika proses pemilu di negaranya sendiri belum demokratis. Bahkan, menurutnya 5 bulan sebelum pemilu, telah diketahui hasilnya. Begitu pula dengan negara-negara barat terutama Amerika yang mangklaim sebagai negara demokrasi tetapi sebetulnya tidak demokratis. Anwar lalu mencontohkan Iran yang melakukan pemilu demokratis, ternyata 'dikudeta' oleh AS melalui lembaga CIA yang pada waktu itu meletakkan Shah Reza sebagai pemimpin Iran. Selain itu rakyat Palestina yang telah mengadakan pemilu dengan demokratis dalam memilih pemimpin dari kelompok HAMAS, ternyata disisihkan oleh barat. "Jadi Bohong kalau negara barat itu berkata soal demokrasi dan keadilan," kata pria yang pernah mendekam di penjara selama delapan tahun ini. Indonesia, lanjutnya, adalah merupakan contoh negara berpenduduk muslim terbesar di dunia yang demokratis. Pendapat tersebut dia lontarkan karena setiap Anwar pergi ke luar negeri manapun selalu ditanya apakah Islam itu selaras dengan demokrasi. "Saya jawab, The largest muslim country in the world is democration," tutur pria berkacamata ini. Perkembangan demokrasi di Indonesia menurut Anwar tampak dalam perkembangan gerakan Islam di Indonesia dengan melihat perkembangan di berbagai ormas dan partai Islam yang inklusif. Hal ini terlihat dengan tidak cepat menolak pada Pancasila dan Piagam Jakarta yang mana para tokoh dan cendikiawan berdiskusi dan berdebat dalam prosesnya. "Ini tidak terjadi di negara Mesir dan negara-negara Islam lain," tukas Anwar. Hal-hal tersebut, lanjut Anwar membawa pesan baru bahwa di Indonesia ada kebebasan dan demokrasi, serta menggambarkan bahwa inklusifisme Islam boleh berkembang. "Indonesia dengan 90% penduduk muslim, inklusif itu terlihat lebih nyata," terang Anwar.Dia pun menyampaikan bahwa di Indonesia, dirinya tidak terjadi adanya dominasi mayoritas dan pengucilan terhadap minoritas seperti lazimnya di negara lain. "Di Amerika, kehidupan umat Islam pasca serangan 11 September lebih susah dibandingkan dengan sepuluh tahun yang lalu," tandas Anwar. Dalam kuliah umum yang dimoderatori oleh Adi Sasono itu, tampak hadir ketua PP Muhammadyah Din Syamsuddin, sastrawan Taufik Ismail, serta Menteri Perindustrian Fahmi Idris. Selain itu para mahasiswa pun ikut mendengarkan kuliah umum ini. (nwk/ndr)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait