Info Haji
Jamaah Haji Kloter 22 Solo Protes Harga Pemondokan
Senin, 18 Des 2006 16:37 WIB
Makkah - Sejumlah persoalan masih mewarnai bidang pemondokan jamaah haji di Makkah. Jamaah haji dari kloter 22 embarkasi Solo protes karena harga pemondokannya dinilai terlalu mahal.Para jamaah haji ini menempati pemondokan 621 di kawasan sektor 7, kawasan Misfallah, Makkah. Dilihat dari jauhnya dengan Masjidil Haram -- sekitar 1,7 km -- pemondokan tersebut mereka nilai masuk kategori D. Dengan demikian mereka berhak mendapatkan pengembalian uang selisih sewa pemondokan sekitar 400 Riyal.Namun kenyataannya, pondokan tersebut dikualifikasi sebagai pemondokan kelas A dengan harga 2000 Riyal. Hal tersebut berdasarkan stiker dari panitia yang tertempel di dinding pemondokan.Terkait hal ini, sebanyak 5 perwakilan jamaah dari kloter 22 embarkasi Solo mendatangi kantor Panitian Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Daerah Kerja (Daker) Makkah. Mereka menuntut penjelasan mengenai pemondokan tersebut."Dilihat dari jauhnya dan fasilitas yang ada, 1 kamar bisa diisi 9 hingga 10 orang, jelas pondokan kami bukan tipe A, tapi tipe D. Dengan demikian kami berhak mendapatkan uang pengembalian sebesar 400 Reyal," kata Widi Sudono, salah satu perwakilan jamaah kloter 22 embarkasi Solo di kantor Daker Makkah, Senin (18/12/2006) seperti dilaporkan reporter detikcom di Makkah, Djoko Tjiptono.Perwakilan jamaah lainnya, Agus Triono, mengatakan, mereka tidak mempersoalkan kondisi pemondokan mereka. Sebab sejak berangkat dari Donohudan, Solo, mereka memang sudah diberitahu akan menempati pondokan kelas D. Informasi itu diperkuat saat mereka tiba di Madinah."Kita di Madinah mendapatkan uang pengembalian 100 Riyal. Dan bersamaan dengan itu, kita juga diberitahu akan menempati pemondokan kelas D di Makkah dan akan mendapatkan uang pengembalian 400 Riyal. Tapi kenyataannya kok begini, tinggal di pemondokan yang jauh tapi kelasnya dinyatakan masuk tipe A," ungkap Agus.Selain jauh, fasilitas di pemondokan 621 juga sangat minim. Tidak ada lokasi untuk menjemur baju, dan para jamaah juga dilarang memasak dengan listrik. Jamaah diharuskan memasak dengan kompor minyak dan harga minyaknya ditetapkan oleh pengelola pemondokan sebesar 4 Riyal. Padahal harga bensin di negeri kaya minyak ini tak sampai 1 Riyal."Ini namanya menyiksa kita. Tapi karena kita lapar mau apa lagi, ya terpaksa nurut. Kalau mau salat ke Masjidil Haram juga tidak ada kendaraan gratis, naik angkutan umum pulang pergi bisa 3 Riyal. Kalau kita dapat pengembalian uang kan lumayan, bisa buat ongkos di sini," ungkap Agus.Perwakilan jamaah yang lainnya lagi, Agus Cipto, menambahkan, mereka ingin persoalan ini cepat diselesaikan. Sebab jamaah kloter 22 embarkasi Solo yang seluruhnya berjumlah 402 orang selalu bertanya-tanya."Kita tidak ingin persoalan ini berlarut-larut, sebab jamaah terus bertanya-tanya. Kalau ini tidak bisa diselesaikan, bukan tidak mungkin seluruh jamaah akan berdemo di sini (Daker Makkah)," ungkap Agus.Menurut Agus, persoalan serupa sebenarnya pernah dihadapi jamaah embarkasi Solo lainnya yang menempati pemondokan 709. Setelah dilakukan negosiasi mereka akhirnya mendapatkan uang pengembalian sebesar 500 Riyal. "Padahal di pondokan tersebut ada sarana transportasi," kata Agus.
(djo/nrl)











































