Tersangka Curanmor Tewas Dianiaya Petugas Polsek Mandau
Minggu, 17 Des 2006 16:35 WIB
Pekanbaru - Kembali tindakan tidak professional ditunjukkan jajaran Polda Riau. Kali ini seorang tersangka curanmor berusia 15 tahun tewas mengenaskan ditangan tim Polsek Mandau, Kabupaten Bengkalis. Kuat dugaan korban mati karena dianiaya. Kematian bocah yang diduga terlibat curanmor itu menjadi perhatian publik. Korban adalah Rondi Saputra buah hati Asmarno S (56) warga kota Duri, Kabupaten Bengkalis, berjarak 70 km arah utara dari Pekanbaru. Korban tewas secara mengenaskan pada Jumat (15/12/2006) malam di Rumah Sakit PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) Duri. Informasi yang dihimpun detikcom, Rondi ditangkap polisi pada Jumat sore dalam kasus curanmor. Hanya dalam hitungan beberapa jam setelah penangkapan, korban tewas dibantai polisi. Keluarga korban menyebut, tewasnya Rondi secara tak wajar itu karena adanya penganiayaan berat dari pihak kepolisian. Disekujur tubuh korban terdapat luka lebam. Pada bagian kepala juga terdapat luka yang menganga. "Kami terkejut, anak kami dipulangkan pihak kepolisian dalam keadaan tak bernyawa. Tubuhnya juga penuh luka. Prilaku pihak kepolisian ini jelas tidak bisa kami terima begitu saja. Apa lagi pihak kepolisian sendiri belum dapat menunjukan barang bukti dari tudingan curanmor itu," ujar Asmarno kepada wartawan, Minggu (17/12/2006). Kasus kematian Rondi yang mengenaskan itu juga menjadi perhatian anggota DPR RI asal Riau, Azlaini Agus. Menurut Anggota Komisi III itu, ia mengetahui kasus kematian bocah di bawah umur tersebut berkat laporan para tokoh masyarakat di Duri. Laporan yang dia terima, kasus kematian Rondi sangat tidak wajar. Kuat dugaan bocah itu tewas karena dianiaya pihak kepolisian. "Saya menyesalkan hal-hal semacam ini. Toh yang ditangani hanya seorang bocah berusia 15 tahun. Mengapa anggota Polsek Mandau menangani kasus sekecil ini harus menggunakan cara-cara kekerasan yang tidak manusiawi," ujar Azlaini kepada detikcom, Minggu (17/12/2006). Azlaini juga sudah melaporkan kasus kematian bocah ini ke pihak Mabes Polri dan Polda Riau. Dia berharap, jajaran kepolisian bisa menuntaskan dan mengusut siapa saja pelaku penganiayaan tersebut. "Saya sudah pesankan pada Kapolres Bengkalis untuk mengusut anggotanya yang terlibat dalam kasus kematian bocah tersebut," kata Azlaini. Sementara Kapolres Bengkalis AKBP Edi Setia Budi Santoso dalam keterangan kepada anggota DPR RI itu, mengakui kematian bocah tersebut. Selaku Kapolres, katanya, dia akan bertanggungjawab baik secara moril. materil maupun secara hukum untuk menindak tegas terhadap anggotanya yang salah. Sebagai langkah untuk mempertanggungjawabkan peristiwa itu, Kapolres Bengkalis dalam SMS-nya yang ditujukan kepada Azlaini, bahwa tim Buser curanmor yang menangani dalam kasus tersebut sekarang dalam proses pemeriksaan di Polres Bengkalis dengan back up Propam Polda Riau. Kapolres juga menjelaskan, pihaknya sudah melakukan pertemuan dengan tokoh-tokoh masyarakat Mandau dan pihak keluraga korban di Polsek Mandau. Pertemuan itu untuk menjelaskan permasalahan tersebut agar masyarakat dapat tenang untuk tidak bertindak anarkis. "Pihak keluarga kita himbau untuk dapat dilaksanakan otopsi terhadap jenazah korban guna mendukung penyidikan terhadap kematian korban. Dan hari ini didatangkan ahli forensik dari Jakarta untuk melaksanakan otopsi," kata Kapolres Bengkalis.
(cha/ana)











































